Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Jurnalisme Inklusi dan isu difabilitas tidak seksi

Jurnalisme Inklusi dan isu difabilitas tidak seksi

Sleman-KoPi|Pemberitaan difabel dalam media mendapat porsi yang sedikit dan kurang berimbang. Menanggapi hal itu SIGAB Yogyakarta mengkampanyekan ‘Jurnalisme Inklusif’ guna membangkitkan semangat media meperjuangkan hak-hak masyarakat tanpa diskriminasi.

Menurut Direktur Eksekutif Majalah Diffa, Jonna Damanik ada kekhawatiran media ketika meliput berita difabilitas. Kekhawatiran itu bisa berasal dari personal wartawannya sendiri hingga media tersebut.

“Bagi media berita difabilitas dipandang tidak seksi, kurang bisa menjual. Ada etika redaksional yang menjadi tekanan wartawan yang meliput. Semisal ada, cenderung beritanya bersifat bombastis dan seringkali terjadi dikotomi dan diskriminasi dalam struktur bahasa beritanya misalnya Si Yuyun berhasil menjadi juara meski dirinya cacat, kata meski di sini menjadi dikotomi”, papar Jonna.

Tanggapan serupa disampaikan oleh konselor Bandung Independent Living Center (BILiC), Yuyun Yuningsih, media seringkali mengabaikan perasaan difabel ketika dirinya menjadi narasumber.

“ Seringkali wartawan yang mewawancarai difabel tuna rungu, dirinya justru aktif berkomunikasi dengan interpreter (penerjemah) daripada memandang ke arah difabelnya. Dan untuk kasus difabek yang menjadi korban kekerasan seksual, ada kekurang hatian dari wartawan, sehingga dengan pemberitaan wartawan tersebut malah menjadikan difabel korban untukkedua kalinya”, jelas Yuyun.

Lebih lanjutnya, Yuyun memaparkan prinsip jurnalisme inklusi yakni :
·    Penghargaan yang layak kepada difaebel sebagai manusia yang memiliki potensi
·    Informasi difabilitas yang benarbagi masyarakat
·    Bebas dari eksploitasi
·    Perlakuan silent object
·    Perlindungan bagi difabel yang menjadi sumber informasi terkait pemberitaan difabel korban kekerasan seksual
·    Pelibatan difabel awal, selama proses dan pengambilan keputusan pemberitaan sampai publikasi |Winda Efanur FS|
 

 

 

 

back to top