Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Jurnalisme Inklusi dan isu difabilitas tidak seksi

Jurnalisme Inklusi dan isu difabilitas tidak seksi

Sleman-KoPi|Pemberitaan difabel dalam media mendapat porsi yang sedikit dan kurang berimbang. Menanggapi hal itu SIGAB Yogyakarta mengkampanyekan ‘Jurnalisme Inklusif’ guna membangkitkan semangat media meperjuangkan hak-hak masyarakat tanpa diskriminasi.

Menurut Direktur Eksekutif Majalah Diffa, Jonna Damanik ada kekhawatiran media ketika meliput berita difabilitas. Kekhawatiran itu bisa berasal dari personal wartawannya sendiri hingga media tersebut.

“Bagi media berita difabilitas dipandang tidak seksi, kurang bisa menjual. Ada etika redaksional yang menjadi tekanan wartawan yang meliput. Semisal ada, cenderung beritanya bersifat bombastis dan seringkali terjadi dikotomi dan diskriminasi dalam struktur bahasa beritanya misalnya Si Yuyun berhasil menjadi juara meski dirinya cacat, kata meski di sini menjadi dikotomi”, papar Jonna.

Tanggapan serupa disampaikan oleh konselor Bandung Independent Living Center (BILiC), Yuyun Yuningsih, media seringkali mengabaikan perasaan difabel ketika dirinya menjadi narasumber.

“ Seringkali wartawan yang mewawancarai difabel tuna rungu, dirinya justru aktif berkomunikasi dengan interpreter (penerjemah) daripada memandang ke arah difabelnya. Dan untuk kasus difabek yang menjadi korban kekerasan seksual, ada kekurang hatian dari wartawan, sehingga dengan pemberitaan wartawan tersebut malah menjadikan difabel korban untukkedua kalinya”, jelas Yuyun.

Lebih lanjutnya, Yuyun memaparkan prinsip jurnalisme inklusi yakni :
·    Penghargaan yang layak kepada difaebel sebagai manusia yang memiliki potensi
·    Informasi difabilitas yang benarbagi masyarakat
·    Bebas dari eksploitasi
·    Perlakuan silent object
·    Perlindungan bagi difabel yang menjadi sumber informasi terkait pemberitaan difabel korban kekerasan seksual
·    Pelibatan difabel awal, selama proses dan pengambilan keputusan pemberitaan sampai publikasi |Winda Efanur FS|
 

 

 

 

back to top