Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Ini yang seharusnya lebih diwaspadai saat bencana

Ini yang seharusnya lebih diwaspadai saat bencana
Surabaya - KoPi Kondisi bencana membuat gagap pemerintah dalam menyelesaikan permasalahannnya. Sehingga banyak hal-hal kecil yan terlupa padahal sangat fatal akibatnya. Seperti minimnya ruang dalam penanaganan ibu yang memberi ASI kepada anak. Ini kerap terlupa.

Kondisi lengah seperti ini kerap menjadi ajang promotor susu foormula untuk memberikan donasi bagi para korban bencana. Susus formula yang diberikan secara gratis tersebut dengan mudah diberikan pada bayi yang sebelumnya dalam program ASI esklusif.

dr. Dini Adityarini , SpA, menyayangkan produsen susu formula yang denganmudah memanfaatkan momen bencana sebagai media promosi. “Kebiasaan pemerintah kita selalu gelagapan ketika terkena musibah. Jadi sangat mudah celah bagi produsen susu formula untuk masuk. Atau bahkan memang bekerjasama dengan dinas-dinas terkait” ujarnya kepada KoPi.

Dokter muda cantik ini menyimpulkan hal-hal yang seharusnya disediakan pemerintah saat bencana terjadi. “Sedikan ruang yang layak dan nyaman untuk para ibu-ibu menyusui. Berikan makanan support penunjang agar ASI yang dikeluarkan bisa banyak. Berikan tim medis khusus yang dapat menangani para ibu yang memberikan ASI. Itu yang seharusnya dilakukan. Tapi kerap malah terbengkalai” tutur Dini.

Menurutnya, pemberian susu formula pada korban bencana malah akan memunculkan bencana baru bagi masyarakat. Sebab, bagi Dini higenitas air dan peralatan untuk menggunakan susu formula sangat buruk. “Air, alat masak, botol susu yang dipakai pastinya tidak higenis. Jika bayi diberikan susu formula, malah akan memunculkan penyakit baru yang berkaitan dengan virus. Seperti diare dan penyakit lainnya” tutur Dini.

Maka, fokus pemerintah seharusnya dipecah. Harus ada penanganan khusus bagi para ibu yang menyusui. Sebab kerap ibu menjadi stress dan ASI yang dikeluarkan menjadi sedikit. Namun jangan dijadikan hal itu sebagai upaya untuk memberikan susu formula. Akan muncul penyakit baru pada bayi jika ibu memberikan susu formula.

Menurut data UNICEF dampak pemberian susu formula saat bencana terjadi sangat besar. Pada tahun 2010 pemberian susu formula pada bayi sebesar 25,1% namun pada tahun 2012 terdapat kenaikan sebesar 30,3%.

Dini menghimbau pemerintah untuk lebih memberikan ruang pada ibu menyusui. Meskipun pemerintah sendiri telah memebrikan peraturan secara hukum yang menerangkan bahwa ibu harus menyusui anak secara ASI esklusif. Namun, tidak ada tindakan nyata dalam membantu para ibu untuk bisa menyusui ASI. Penganggu terbesarnya merupakan kehadirn susu formula yang diberi ruang sangat besar untuk melakukan promosi produknya. 

back to top