Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Ini penyebab Dimas Kanjeng Taat Pribadi punya banyak pengikut

Ini penyebab Dimas Kanjeng Taat Pribadi punya banyak pengikut

Surabaya – KoPi | Kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi membuat masyarakat Indonesia tercengang. Banyak yang tak habis pikir, mengapa di masa perkembangan teknologi begitu pesat begini masih ada yang mempercayai klaim seseorang yang mampu menggandakan harta dalam semalam? Bahkan ada korban Dimas Kanjeng yang merelakan uang Rp 200 miliar miliknya demi harapan bisa digandakan menjadi triliunan dalam semalam.

Apa yang membuat pengikut-pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi sangat loyal dan mudah tergiur iming-iming dari Dimas Kanjeng tersebut?

Sosiolog Universitas Airlangga Novri Susan mengatakan, hal itu tidak lepas dari peran organisasi yang dipegang oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Organisasi atau komunitas Dimas Kanjeng tersebut terdiri dari dua struktur, yaitu para elit dan para jamaah. Para elit-lah yang memegang peranan penting untuk mempengaruhi korban-korban Dimas Kanjeng.

Menurut Novri, ada elit yang berfungsi sebagai pendoktrin untuk meyakinkan bahwa apa yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng adalah benar dan ia memiliki kemampuan khusus. Lalu ada elit yang berfungsi sebagai totem.

“Masyarakat Indonesia masih mempercayai bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki kekuatan di luar akal manusia. Mereka dianggap sebagai totem yang sangat mulia dan luar biasa, memiliki kekuatan superhuman (di atas akal manusia) sehingga disebut memiliki karomah. Sehingga ketika mereka memiliki masalah ekonomi, lalu berhadapan dengan figur yang seperti itu, mereka menjadi bagian yang sangat loyal,” jelas Novri.

Kondisi tersebut diperkuat dengan adanya para elit yang berfungsi sebagai pendoktrin, sehingga mampu menanamkan keyakinan di antara para pengikutnya. Itu sebabnya walau Dimas Kanjeng telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan dan penipuan, masih banyak pengikutnya yang bertahan di padepokan miliknya.

Novri melihat hal ini bukan lagi persoalan rasional atau irasional saja, melainkan persoalan kebudayaan. Dalam konteks masyarakat Indonesia, ada keyakinan bahwa beberapa orang tertentu memiliki kemampuan superhuman.

 

“Hal itu yang membuat figur-figur seperti Dimas Kanjeng mudah merekrut pengikut-pengikut. Dia mampu mendoktrin pengikutnya bahwa ia dikarunia kekuatan atau kelebihan dari Tuhan. Ini tidak hanya soal rendahnya pendidikan, tapi persoalan keyakinan masyarakat pada individu yang mengklaim atau dipercaya memiliki kekuatan semacam itu,” papar Novri.

back to top