Menu
BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

Prev Next

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Kedu-KoPi. Puasa ramadhan usai dan datanglah hari Idul Fitri yang menjadi 'puncak' perjalanan ruhani kaum muslimin seluruh dunia. Masyarakat Indonesia merayakannya penuh suka cita. Saling bermaafan adalah cara yang membahagiakan. Sungguh khusuk dan tenang. Namun suara ledakan keras berkali-kali menyayat kekhusukan, dari arah ruas jalanan dan pojok-pojok kota.

Ada yang 'merayakan' hari suci itu dengan ledakan-ledakan mercon. Mereka menciptakan suasana ketakutan pada orang lain, daripada memberi kemeriahan. Menciptakan kengerian daripada menegur sapa menyenangkan. Tidak sedikit kecelakaan akibat mercon mengakibatkan korban luka dan jiwa.

"Saya sih suka-suka aja. Rasanya senang dengar suara keras." Sahut Eko, pemuda berusia 20 tahun, di Kota Magelang ketika ditanya mengapa suka bermain mercon. Dia tidak menjawab ketika ditanya tentang bahaya mercon pada diri sendiri dan orang lain.

Setelah berpesta mercon, sampah berserakan. Kertas-kertas kemasan mercon bertebaran. Tak ada yang peduli. Lingkungan tampak kotor dan suram. Sosiolog dari Universitas Airlangga, Dr. Tuti Butirahayu, memprihatinkan fenomena sosial mercon tersebut.

"Sebagian masyarakat Indonesia tidak memiliki nilai menghargai dan menghormati orang lain. Ada krisis ketidakpedulian pada kesadaran kolektif masyarakat. Mercon itu membahayakan orang lain, namun para pelaku tidak peduli".

Doktor pakar sosiologi pendidikan dan perilaku menyimpang ini juga menyatakan bahwa perilaku menyalakan mercon dan sampah berserakan merupakan tanda krisis kolektif. Itu bukan saja fenomena kenakalan namun terkait faktor habit (kebiasaan) dari setiap level kepemimpinan sosial.

"Perlu pendidikan lebih sistematif tentang saling menghormati di ruang publik. Pendidikan menjadi efektif jika para pemimpin sosial bersedia menjadi guru dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, bukan malah menjadi pelaku perilaku menyimpang".*

 

Reporter: Winda Nur

 

back to top