Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Hotel-hotel di Surabaya yang bikin sengsara

Hotel-hotel di Surabaya yang bikin sengsara
Surabaya-KoPi| Pembangunan Hotel di Surabaya semakin hari menimbulkan banyak permasalahan. Dampak pembangunan yang berbondong-bondong tersebut menimbulkan kemacetan. Di Jl. Basuki Rahmat, Jl. Tunjungan dan Jl. Embong Malang, misalnya, merupakan pusat kota yang terkena dampak kemacetan sangat berarti.

Sejak tahun 2014, Surabaya ditambahi 16 hotel dengan 2.185 kamar. Kebijakan ini dilandasi dengan terjadinya lonjakan jumlah kedatangan wisatawan asing dan domestik di Surabaya. Menurut Jamhadi, selaku Ketua Kadin Surabaya pada tahu 2012 pembangunan hotel yang terus menerus merupakan upaya dalam menjadikan kota Surabaya sebagai kota penyangga untuk kabupaten dan kota di sekitarnya.

Namun,  menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, tingkat pertumbuhan kunjungan ke Surabaya setiap tahunnya berkisar 10 persen. Sementara, pertumbuhan hotel di Surabaya berkisar 20 hingga 30 persen setiap tahunnya.

Hal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan pertumbuhan hotel dengan kebutuhannya. Maka yang terjadi adalah dampak negatif dengan adanya pembangunan tersebut. Menurut M. Soleh selaku ketua perhimpunan hotel dan restoran Indonesia, saat ini jumlah hotel yang berada di pusat kota sudah berada dibatas kewajaran.

Sehingga, menurutnya Pemkot Surabaya seharusnya sudah menolak perijinan pembangunan hotel di Surabaya dan mengalihkannya ke pinggiran kota di Surabaya.

Namun pemerintah lupa dalam menangani permasalah kemacetan dan dampak ketidakmerataan perekonomian di Surabaya. Pembangunan hotel yang bertajuk menyokong perekonomian Surabaya kemudian melupakan perekonomian warga kecil di sekitarnya. 

back to top