Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Hotel-hotel di Surabaya yang bikin sengsara

Hotel-hotel di Surabaya yang bikin sengsara
Surabaya-KoPi| Pembangunan Hotel di Surabaya semakin hari menimbulkan banyak permasalahan. Dampak pembangunan yang berbondong-bondong tersebut menimbulkan kemacetan. Di Jl. Basuki Rahmat, Jl. Tunjungan dan Jl. Embong Malang, misalnya, merupakan pusat kota yang terkena dampak kemacetan sangat berarti.

Sejak tahun 2014, Surabaya ditambahi 16 hotel dengan 2.185 kamar. Kebijakan ini dilandasi dengan terjadinya lonjakan jumlah kedatangan wisatawan asing dan domestik di Surabaya. Menurut Jamhadi, selaku Ketua Kadin Surabaya pada tahu 2012 pembangunan hotel yang terus menerus merupakan upaya dalam menjadikan kota Surabaya sebagai kota penyangga untuk kabupaten dan kota di sekitarnya.

Namun,  menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, tingkat pertumbuhan kunjungan ke Surabaya setiap tahunnya berkisar 10 persen. Sementara, pertumbuhan hotel di Surabaya berkisar 20 hingga 30 persen setiap tahunnya.

Hal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan pertumbuhan hotel dengan kebutuhannya. Maka yang terjadi adalah dampak negatif dengan adanya pembangunan tersebut. Menurut M. Soleh selaku ketua perhimpunan hotel dan restoran Indonesia, saat ini jumlah hotel yang berada di pusat kota sudah berada dibatas kewajaran.

Sehingga, menurutnya Pemkot Surabaya seharusnya sudah menolak perijinan pembangunan hotel di Surabaya dan mengalihkannya ke pinggiran kota di Surabaya.

Namun pemerintah lupa dalam menangani permasalah kemacetan dan dampak ketidakmerataan perekonomian di Surabaya. Pembangunan hotel yang bertajuk menyokong perekonomian Surabaya kemudian melupakan perekonomian warga kecil di sekitarnya. 

back to top