Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Hoax muncul karena masyarakat kecewa pada media mainstream

Hoax muncul karena masyarakat kecewa pada media mainstream

Bantul-KoPi| Berita Hoax atau berita palsu yang sering muncul dalam beberapa waktu terakhir, disebabkan kekecewaan masyarakat kepada media saat ini. Media mainstream, khususnya yang dianggap punya kebebasan dalam menyebarkan informasi, dianggap gagal oleh masyarakat dalam menyebarkan informasi. Mereka lebih mementingkan aspek pasar selain menginformasikan kebenaran.

Hal ini dinyatakan oleh Wakil Ketua Komisi 1 DPRD Istimewa Yogyakarta, Hanafi Rais, M.PP dalam seminar nasional yang bertajuk “Kapitalisasi Media Digital sebagai Agen Pembentuk Pola Pikir Masyarakat” di Ruang Sidang AR. Fachrudin B, Kampus Terpadu UMY pada Sabtu (25/3). Seminar ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIPOL UMY dan merupakan rangkaian Pekan Keilmuan Sosial Politik 2017.

Hanafi menambahkan, akibat muncul berita hoax tersebut masyarakat Indonesia telah mengalami fase post truth society atau masyarakat pasca kebenaran. “Yaitu fenomena yang menggambarkan masyarakat kita saat ini. Masyarakat tidak lagi percaya informasi yang diberikan media mainstream, justru lebih percaya pada berita yang belum tentu sumbernya dari mana, dan belum tentu juga kebenaran informasinya. Dalam sosial media, kita sering melihat berita yang viral justru berasal dari citizen journalist,”ungkapnya.

Akibat hal tersebut, putra pertama Amien Rais ini menyatakan peralihan masyarakat menuju sosial media ini yang menyebabkan banyaknya berita hoax tersebar. “Semakin banyak orang beralih ke media alternatif, sosial media contohnya, semakin banyak orang memproduksi dan menyebarkan informasi yang mereka suka. Apalagi, sosmed dengan cepatnya menyebar dalam hitungan detik,”ujarnya.

Untuk itu, Ia menekankan perlunya kesadaran literasi media bagi masyarakat, juga perlunya pengetahuan tentang UU ITE yang sudah direvisi. “Literasi media harus digalakkan. Jangan hanya sifatnya reaktioner, saat berita hoax telah menyebar, baru kita lakukan literasi media. Literasi media dalam internet harus dilakukan secara mainstream agar kita tidak asal klik menyebarkan informasi. Juga pemahaman UU ITE agar masyarakat paham bertata-etika menggunakan medsos,”jelasnya.

Sementara, Budi Hermanto, salah seorang Penulis dan Pekerja di Media percaya bahwa media sosial bisa menjadi media baru yang positif jika dimanfaatkan dengan baik. “Sosial media menjadi media baru yang menawarkan berbagai kelebihan. Selama ini, media mainstream menganggap kita sebagai konsumen. Sementra, media sosial bisa memposisikan kita sebagai produsen. Kita bisa membuat karya lewat youtube misalnya. Kita bisa mendorong perubahan sosial dengan cara ini,”tandasnya.

Budi juga menyoroti perilaku masyarakat Indonesia yang belum ber”etika” dalam bermedia sosial. Dia menyayangkan banyaknya ujaran kebencian yang ada di sosmed. “Masih banyak ujaran kebencian di sosmed. Harusnya postingan tersebut bisa diimbangi dengan ujaran positif dan lebih baik. Padahal, etika di sosial media tak berbeda dengan etika komunikasi di dunia nyata,”tutupnya. (bagas)

back to top