Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

"Halo dokter, mengapa berlaku demikian?"

dr. Erry Dewanto (tengah mengenakan baju koko putih motif hitam) dr. Erry Dewanto (tengah mengenakan baju koko putih motif hitam)

Surabaya-KoPi| Dokter biasanya dipandang eksklusif dengan 'jarak' cukup jauh dari masyarakat dan khususnya para pasien. Selain karena keahliannya yang dipandang 'linuwih' (lebih), biasanya kehidupan para dokter cukup eksklusif. Akan tetapi tidak semua dokter demikian walaupun mungkin jumlahnya tidak banyak. Termasuk yang tidak banyak tersebut adalah dr. Erry Dewanto, Sp.M. yang merupakan pakar bedah katarak di Kota Surabaya.

Peraih gelar profesi dokter dari Universitas Airlangga, dan spesialis dari Universitas Indonesia ini memilih jalan berbeda. Posisi sebagai seorang dokter spesialis mata, bedah katarak, yang ramai dikunjungi pasien, tidak menyebabkannya menjadi eksklusif. Sebaliknya, dokter Erry sering melakukan kegiatan kemanusiaan terutama pelayanan kesehatan mata.

Beberapa waktu lalu (3/12/15) ia bersama Klinik Mojoagung, Pemerintah Kabupaten Jombang, dan Ikatan Penyandang Cacat melaksanakan peringatan Hari Disabilitas Internasional dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan mata dan pembagian kacamata gratis untuk penyandang cacat.

Dokter Erry memobilisasi para staffnya di Klinik Mojoagung memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal. Ada celetuk pasien yang heran dengan prinsip dokter Erry.

"Halo dokter, mengapa berlaku demikian?" 

Menanggapi celetuk tersebut, kepada KoPi dokter Erry tidak banyak berkomentar. Ia hanya menyatakan bahwa dirinya yang memiliki kepakaran bedah katarak tidak harus bersikap acuh dan sibuk dengan kehidupan sendiri.

"Saya hanya ingin setiap orang di Indonesia ini memiliki mata yang sehat. Itu yang bisa saya lakukan," jawab dokter penggemar olahraga alam itu tersenyum.

Masyarakat sendiri sangat mengagumi dan menghormati dokter Erry. Salah satu pasien usai perawatan di Kayon Health Center, klinik milik dokter Erry di Surabaya, menyatakan bahwa cara pendekatan dalam perawatan kesehatan mata dokter Erry memberinya hal berbeda.

"Dulu saya takut periksa mata setelah datang ke seorang dokter mata, saya merasa tidak nyaman. Namun setelah bertemu dokter Erry saya merasa lebih nyaman dan menjalani perawatan dengan tenang."

Jika saja para dokter mata juga bersikap dan berprinsip sama seperti dokter Erry maka masyarakat Indonesia akan lebih memiliki mata yang sehat. |Labibah l|

back to top