Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Fenomena UIN Suka Gay

Fenomena UIN Suka Gay
Jogjakarta-KoPi| Meskipun Islam menjadi ruang penjara bagi kaum LGBT, ternyata gerakan Lesbi Gay Biseksual Transgender (LGBT) sudah banyak merebak di perkotaan hingga gang sempit pedesaan. Bahkan ruang-ruang relijius sekelas pondok pesantren pun bisa menjadi tempat gay, termasuk UIN Sunan Kalijaga. Hal ini ditandai dengan lahirnya akun twitter UIN Suka Gay Community.
 
Akun ini, meskipun belum memiliki follower yang banyak, tapi terus berkembang. Menariknya, akun UIN Suka Gay ini menjadi identifikasi jejaring gay antar kampus. Kasus maraknya perilaku gay di  UIN Sunan Kalijaga ini pun merebak menjadi perbincangan hangat di kalangan umum. 
 
Menurut Wakil Rektor I UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Prof. Sutrisno hal ini perlu menjadi peringatan bagi umat Islam untuk lebih membentengi diri. Dia memandang dalam diri manusia selalu ada kecenderungan melakukan yang tidak benar.
 
“Tidak serta merta mengatakan ajaran Islam telah gagal membimbing umatnya. Pasalnya permasalahannya komplek, tidak hanya satu  atau dua faktor. Tidak bisa pesantren dikatakan gagal, Bahkan Nabi ( Muhammad) juga tidak bisa menyelamatkan pamannya (Abu Talib).  Seandainya terjadi (di pesantren), dari ratusan pesantren kasusnya berapa? Jangan-jangan tidak seberapa tapi dibesarkan di blow up”, papar Prof. Sutrisno.
 
Sementara Dosen Kimia, UIN Sunan Kalijaga Jogjakrta, Asih Widi Wisudawati menyatakan fenomena gay memang rawan terjadi di pondok pesantren. Meskipun berada di lingkungan relijius celah berperilaku gay kerap terjadi.
 
Asih menekankan pada dukungan moral dan bimbingan bagi pelaku gay. Pelaku gay mendapat perlakuan yang adil tanpa penghakiman sepihak.
 
back to top