Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Dunia pewayangan perlu kembangkan wayang khas Indonesia

Dunia pewayangan perlu kembangkan wayang khas Indonesia
Surabaya-KoPi| Wayang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia tak benda. Perlindungan serta pengembangan wayang sebagai warisan budaya Indonesia kini berada di tangan kita.
 

Namun, saat ini perkembangan wayang di Indonesia dianggap masih terlalu lambat. Masyarakat Indonesia masih memandang wayang sebagai tradisi kuno yang tak boleh diutak-atik sembarangan. Akibatnya, tak ada kreasi baru dalam dunia pewayangan, tak ada dalang yang berani berkreasi.

Menurut doktor Filsafat Universitas Gadjah Mada Sri Teddy Rusdy, saat ini paradigma masyarakat terhadap wayang memang tak banyak berubah. Pakem-pakem dalam dunia pewayangan harus dianut dan dipatuhi. Namun hal itu justru akan membuat perkembangan wayang menjadi stagnan.

"Wayang memang sudah ada pakem sendiri dan itu juga diakui UNESCO. Tapi mengapa kita tidak mengembangkan cerita sendiri yang khas Indonesia," cetusnya ketika menjadi pembicara dalam Seminar "Budaya Sebagai Pemicu Pembangunan Bangsa" di Universitas Airlangga (17/11).

Sri Teddy mengatakan hal ini karena selama ini dalam wayang purwo masa kini tidak pernah ada yang berani memasukkan sejarah Indonesia. Tidak ada tokoh yang khas indonesia yang pernah muncul di sejarah pewayangan modern. Sri Teddy mengatakan, saat ini salah satu dalang yang berani menabrak pakem-pakem yang ada adalah "Dalang Gendheng" Sujiwo Tejo.

Padahal pada masa lalu ada Punakawan yang merupakan tokoh khas Indonesia yang sesuai dengan ciri khas masyarakat Indonesia. Tokoh Punakawan memberi nuansa yang berbeda dalam cerita Mahabarata versi Indonesia dengan versi India.

"Saya saat ini sedang mengembangkan wayang Prabu Airlangga. Cerita ini merupakan kelanjutan dari kisah Arjuna Kakawin. Selama ini, cerita Arjuna Kakawin berhenti setelah Arjuna naik tahta," ungkap doktor dengan konsentrasi ilmu di bidang filsafat wayang itu. 

Sri Teddy mengatakan, salah satu gelar Arjuna ketika naik tahta adalah Prabu Airlangga, suatu poin yang tak muncul dalam versi India. Cerita Arjuna setelah bergelar Prabu Airlangga merupakan kisah potensial yang bisa dijadikan cerita sendiri.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia Provinsi DKI Jakarta tersebut bahkan mendesain sendiri wayang Prabu Airlangga, dengan rupa Arjuna sebagai dasarnya. Yang menjadi pembeda adalah baju yang dikenakannya.

"Harapan saya tokoh Prabu Airlangga ini akan masuk ke dalam kotak wayang purwo dan berkembang menjadi tokoh khas Indonesia," ujarnya.

back to top