Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Dunia pewayangan perlu kembangkan wayang khas Indonesia

Dunia pewayangan perlu kembangkan wayang khas Indonesia
Surabaya-KoPi| Wayang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia tak benda. Perlindungan serta pengembangan wayang sebagai warisan budaya Indonesia kini berada di tangan kita.
 

Namun, saat ini perkembangan wayang di Indonesia dianggap masih terlalu lambat. Masyarakat Indonesia masih memandang wayang sebagai tradisi kuno yang tak boleh diutak-atik sembarangan. Akibatnya, tak ada kreasi baru dalam dunia pewayangan, tak ada dalang yang berani berkreasi.

Menurut doktor Filsafat Universitas Gadjah Mada Sri Teddy Rusdy, saat ini paradigma masyarakat terhadap wayang memang tak banyak berubah. Pakem-pakem dalam dunia pewayangan harus dianut dan dipatuhi. Namun hal itu justru akan membuat perkembangan wayang menjadi stagnan.

"Wayang memang sudah ada pakem sendiri dan itu juga diakui UNESCO. Tapi mengapa kita tidak mengembangkan cerita sendiri yang khas Indonesia," cetusnya ketika menjadi pembicara dalam Seminar "Budaya Sebagai Pemicu Pembangunan Bangsa" di Universitas Airlangga (17/11).

Sri Teddy mengatakan hal ini karena selama ini dalam wayang purwo masa kini tidak pernah ada yang berani memasukkan sejarah Indonesia. Tidak ada tokoh yang khas indonesia yang pernah muncul di sejarah pewayangan modern. Sri Teddy mengatakan, saat ini salah satu dalang yang berani menabrak pakem-pakem yang ada adalah "Dalang Gendheng" Sujiwo Tejo.

Padahal pada masa lalu ada Punakawan yang merupakan tokoh khas Indonesia yang sesuai dengan ciri khas masyarakat Indonesia. Tokoh Punakawan memberi nuansa yang berbeda dalam cerita Mahabarata versi Indonesia dengan versi India.

"Saya saat ini sedang mengembangkan wayang Prabu Airlangga. Cerita ini merupakan kelanjutan dari kisah Arjuna Kakawin. Selama ini, cerita Arjuna Kakawin berhenti setelah Arjuna naik tahta," ungkap doktor dengan konsentrasi ilmu di bidang filsafat wayang itu. 

Sri Teddy mengatakan, salah satu gelar Arjuna ketika naik tahta adalah Prabu Airlangga, suatu poin yang tak muncul dalam versi India. Cerita Arjuna setelah bergelar Prabu Airlangga merupakan kisah potensial yang bisa dijadikan cerita sendiri.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia Provinsi DKI Jakarta tersebut bahkan mendesain sendiri wayang Prabu Airlangga, dengan rupa Arjuna sebagai dasarnya. Yang menjadi pembeda adalah baju yang dikenakannya.

"Harapan saya tokoh Prabu Airlangga ini akan masuk ke dalam kotak wayang purwo dan berkembang menjadi tokoh khas Indonesia," ujarnya.

back to top