Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Dunia pewayangan perlu kembangkan wayang khas Indonesia

Dunia pewayangan perlu kembangkan wayang khas Indonesia
Surabaya-KoPi| Wayang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia tak benda. Perlindungan serta pengembangan wayang sebagai warisan budaya Indonesia kini berada di tangan kita.
 

Namun, saat ini perkembangan wayang di Indonesia dianggap masih terlalu lambat. Masyarakat Indonesia masih memandang wayang sebagai tradisi kuno yang tak boleh diutak-atik sembarangan. Akibatnya, tak ada kreasi baru dalam dunia pewayangan, tak ada dalang yang berani berkreasi.

Menurut doktor Filsafat Universitas Gadjah Mada Sri Teddy Rusdy, saat ini paradigma masyarakat terhadap wayang memang tak banyak berubah. Pakem-pakem dalam dunia pewayangan harus dianut dan dipatuhi. Namun hal itu justru akan membuat perkembangan wayang menjadi stagnan.

"Wayang memang sudah ada pakem sendiri dan itu juga diakui UNESCO. Tapi mengapa kita tidak mengembangkan cerita sendiri yang khas Indonesia," cetusnya ketika menjadi pembicara dalam Seminar "Budaya Sebagai Pemicu Pembangunan Bangsa" di Universitas Airlangga (17/11).

Sri Teddy mengatakan hal ini karena selama ini dalam wayang purwo masa kini tidak pernah ada yang berani memasukkan sejarah Indonesia. Tidak ada tokoh yang khas indonesia yang pernah muncul di sejarah pewayangan modern. Sri Teddy mengatakan, saat ini salah satu dalang yang berani menabrak pakem-pakem yang ada adalah "Dalang Gendheng" Sujiwo Tejo.

Padahal pada masa lalu ada Punakawan yang merupakan tokoh khas Indonesia yang sesuai dengan ciri khas masyarakat Indonesia. Tokoh Punakawan memberi nuansa yang berbeda dalam cerita Mahabarata versi Indonesia dengan versi India.

"Saya saat ini sedang mengembangkan wayang Prabu Airlangga. Cerita ini merupakan kelanjutan dari kisah Arjuna Kakawin. Selama ini, cerita Arjuna Kakawin berhenti setelah Arjuna naik tahta," ungkap doktor dengan konsentrasi ilmu di bidang filsafat wayang itu. 

Sri Teddy mengatakan, salah satu gelar Arjuna ketika naik tahta adalah Prabu Airlangga, suatu poin yang tak muncul dalam versi India. Cerita Arjuna setelah bergelar Prabu Airlangga merupakan kisah potensial yang bisa dijadikan cerita sendiri.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia Provinsi DKI Jakarta tersebut bahkan mendesain sendiri wayang Prabu Airlangga, dengan rupa Arjuna sebagai dasarnya. Yang menjadi pembeda adalah baju yang dikenakannya.

"Harapan saya tokoh Prabu Airlangga ini akan masuk ke dalam kotak wayang purwo dan berkembang menjadi tokoh khas Indonesia," ujarnya.

back to top