Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Jogjakarta-KoPi| Setidaknya 2 juta perempuan di Indonesia melakukan praktek aborsi atau Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), baik secara legal maupun ilegal. Sekitar 83% diantaranya berasal dari perempuan berstatus keluarga, dan 2,1% pernah menikah, sisanya 16,6% belum menikah. Hal ini mematahkan asumsi yang beredar, pelaku aborsi dari kalangan remaja.

Menurut direktur Eksekutif PKBI, Chatarina Wahyurini setiap tahun ke tahun pelaku KTD cenderung turun. Bahkan adanya jumlah 2 juta pelaku KTD masih tergolong rendah. Adapun faktor yang mendorong perempuan melakukan aborsi karena faktor ekonomi dan psikologi-sosial.

"Misal karena program KB yang gagal, faktor ekonomi jumlah anak, tidak ingin punya anak banyak," jelas Chatarina saat jumpa pers di Novotel pada Jumat tanggal 4 Desember 2015.

Chatarina menambahkan para pelaku KTD sering melakukan pengguguran kandungan. Tercatat terdapat 32% klien menggugurkan melalui jamu tradisional, 15% melalui medis dan sekitar 1% melalui dukun.

Berbagai upaya tersebut sangat riskan bagi perempuan. Penanganan yang salah berakibat fatal bisa mematikan ibu dan janinnya sekaligus.

Chatarina mendorong pemerintah memfasilitasi pelayanan medis terhadap KTD. Namun sayang fasilitas medis KTD masih terkesan setengah hati.

"Aborsi masih dianggap pembunuhan, adanya fatwa MUI. sehingga pelaku KTD kita rujuk ke klinik PKBI, kalau ke luar kota dirujuk ke jaringan PKBI," jelas Chatarina. |Winda Efanur FS|

back to top