Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Jogjakarta-KoPi| Setidaknya 2 juta perempuan di Indonesia melakukan praktek aborsi atau Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), baik secara legal maupun ilegal. Sekitar 83% diantaranya berasal dari perempuan berstatus keluarga, dan 2,1% pernah menikah, sisanya 16,6% belum menikah. Hal ini mematahkan asumsi yang beredar, pelaku aborsi dari kalangan remaja.

Menurut direktur Eksekutif PKBI, Chatarina Wahyurini setiap tahun ke tahun pelaku KTD cenderung turun. Bahkan adanya jumlah 2 juta pelaku KTD masih tergolong rendah. Adapun faktor yang mendorong perempuan melakukan aborsi karena faktor ekonomi dan psikologi-sosial.

"Misal karena program KB yang gagal, faktor ekonomi jumlah anak, tidak ingin punya anak banyak," jelas Chatarina saat jumpa pers di Novotel pada Jumat tanggal 4 Desember 2015.

Chatarina menambahkan para pelaku KTD sering melakukan pengguguran kandungan. Tercatat terdapat 32% klien menggugurkan melalui jamu tradisional, 15% melalui medis dan sekitar 1% melalui dukun.

Berbagai upaya tersebut sangat riskan bagi perempuan. Penanganan yang salah berakibat fatal bisa mematikan ibu dan janinnya sekaligus.

Chatarina mendorong pemerintah memfasilitasi pelayanan medis terhadap KTD. Namun sayang fasilitas medis KTD masih terkesan setengah hati.

"Aborsi masih dianggap pembunuhan, adanya fatwa MUI. sehingga pelaku KTD kita rujuk ke klinik PKBI, kalau ke luar kota dirujuk ke jaringan PKBI," jelas Chatarina. |Winda Efanur FS|

back to top