Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Jogjakarta-KoPi| Setidaknya 2 juta perempuan di Indonesia melakukan praktek aborsi atau Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), baik secara legal maupun ilegal. Sekitar 83% diantaranya berasal dari perempuan berstatus keluarga, dan 2,1% pernah menikah, sisanya 16,6% belum menikah. Hal ini mematahkan asumsi yang beredar, pelaku aborsi dari kalangan remaja.

Menurut direktur Eksekutif PKBI, Chatarina Wahyurini setiap tahun ke tahun pelaku KTD cenderung turun. Bahkan adanya jumlah 2 juta pelaku KTD masih tergolong rendah. Adapun faktor yang mendorong perempuan melakukan aborsi karena faktor ekonomi dan psikologi-sosial.

"Misal karena program KB yang gagal, faktor ekonomi jumlah anak, tidak ingin punya anak banyak," jelas Chatarina saat jumpa pers di Novotel pada Jumat tanggal 4 Desember 2015.

Chatarina menambahkan para pelaku KTD sering melakukan pengguguran kandungan. Tercatat terdapat 32% klien menggugurkan melalui jamu tradisional, 15% melalui medis dan sekitar 1% melalui dukun.

Berbagai upaya tersebut sangat riskan bagi perempuan. Penanganan yang salah berakibat fatal bisa mematikan ibu dan janinnya sekaligus.

Chatarina mendorong pemerintah memfasilitasi pelayanan medis terhadap KTD. Namun sayang fasilitas medis KTD masih terkesan setengah hati.

"Aborsi masih dianggap pembunuhan, adanya fatwa MUI. sehingga pelaku KTD kita rujuk ke klinik PKBI, kalau ke luar kota dirujuk ke jaringan PKBI," jelas Chatarina. |Winda Efanur FS|

back to top