Menu
BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

Prev Next

Buruh perempuan masih tersisih

Buruh perempuan masih tersisih
Surabaya – KoPi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pabrik lebih menyukai pekerja perempuan dibanding laki-laki. Sebagian besar buruh yang bekerja di pabrik adalah pekerja perempuan. Mereka dianggap lebih murah, tidak rewel, dan lebih produktif. Hal itu tercermin dari bagaimana buruh perempuan tidak banyak menuntut setiap kali ada demo kenaikan upah. Mereka hanya mengikuti apa yang menjadi tuntutan serikat buruh yang didominasi kaum laki-laki.
 

Namun di sisi lain, tuntuan serikat buruh dianggap masih terlalu maskulin dan umum, dan mengabaikan hak-hak pekerja perempuan. Jumlah buruh perempuan yang jauh lebih besar daripada buruh laki-laki seakan tidak memberi efek apa-apa pada tuntutan serikat buruh dan kebijakan perusahaan. Padahal, buruh perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan buruh laki-laki. 

Sekretaris Komisi Perempuan Indonesia (KPI) wilayah Jawa Timur Wiwik Afifah menyatakan selama ini buruh perempuan memang kurang aktif terlibat dalam organisasi serikat buruh. Padahal masuk ke dalam serikat buruh adalah hak setiap buruh. 

“Separo waktu buruh perempuan dipakai untuk bekerja. Mereka juga masih harus mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sehingga semua waktu yang bisa digunakan untuk berorganisasi jadi hilang,” ujar Wiwik. 

Masyarakat masih berasumsi bahwa laki-laki yang harus bekerja dan mencari nafkah, sedangkan perempuan hanya dianggap membantu. Hal itu memicu pandangan bahwa pekerja perempuan menjadi kelompok kelas dua. Keberadaan mereka tidak dianggap. Dalam serikat buruh, tuntutan mereka tidak pernah terdengar atau disuarakan. Akibatnya banyak hak-hak mereka yang terabaikan.

“Tuntutan buruh selama ini masih sangat maskulin dan umum. Naikkan UMR, tolak BPJS, dan sebagainya. Tapi yang spesifik perempuan, seperti angkutan antar jemput khusus perempuan di malam hari, tempat penitipan anak yang ada di dekat pabrik, tempat penyimpanan ASI, itu kan tidak ada,” tutur Wiwik.

Hal ini sangat merugikan pekerja perempuan. Beberapa daerah bahkan ditengarai memberi buruh perempuan upah yang lebih kecil dibandingkan buruh laki-laki.

“Sangat penting bagi buruh perempuan untuk membela haknya. Mereka perlu diberi pemahaman untuk menyuarakan kepentingan mereka. Memang banyak yang tidak berani, tapi bukan berarti mereka tidak bisa,” kata Wiwik lagi.

Wiwik mencontohkan ada Marsinah yang getol memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Meskipun perjuangan Marsinah juga masih terlalu umum, seperti kenaikan upah, namun seharusnya ia menjadi inspirasi bagi buruh perempuan.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top