Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Budaya itu hilang dibalik pentas dangdut dan botol minuman

http://hurek.blogspot.com http://hurek.blogspot.com
Sidoarjo - KoPi | Pada tengah malam, di waktu manusia-manusia terlelap pada mimpinya. Sekerumunan orang mendayung menuju muara Sungai Kepetingan untuk meminta keselamatan. Sebelum fajar, mereka harus sampai, agar matahari tidak mengganggu kekhusyukan berdoa Masing-masing dari mereka membawa sesajen dengan tumpeng dari ayam panggang.

Tradisi itu dinamakan Nyadran. Budaya yang dilakukan masyarakat nelayan Bluru Sidoarjo ini telah berlangsung turun menurun dari nenek moyang. Mereka berbondong-bondong meminta keselamatan dan syukuran atas hasil laut yang didapatkan. Bagi mereka, laut yang merupakan tempat penghasil rezeki harus disyukuri dengan pemberian beberapa sesaji. Tradisi itu diakhiri dengan pembacaan tahlil di Makam Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri.

Sayang, tradisi yang diturunkan dari para leluhur ini kini kian terkikis dengan budaya-budaya baru dalam masyarakat. Nyadran yang awalnya bermakna selametan dengan ritual sakral kini hanya menjadi kegiatan hura hura masyarakat sekitar.

Budaya sakral Nyadran yang merupakan tradisi melarung sesajen dan tahlilan di Makam Dewi Sekardadu pada tengah malam justru hanya sebatas simbolik yang dilakukan para tetua untuk meminta keselamatan. Para nelayan hanya sekedar menitip sesajen dan doa yang akan dipanjatkan tetua tersebut pada saat fajar di makam Dewi Sekardadu.

Sedang para nelayan lainnya bersiap untuk menyambut tradisi Nyadran dengan tujuan berhura-hura. Mereka sibuk menghias kapal, menyetel sound dan orkes yang dimainkan di kapal. Mereka, para peserta Nyadran hanya sibuk dengan penyanyi dangdut yang akan tampil bernyanyi sambil joget saat berlayar. Juga sibuk mempersiapkan berapa botol minuman keras yang akan mereka habiskan saat tradisi tersebut berlangsung.

Bahkan, mereka membawa beberapa kepercayaan-kepercayaan sendiri yang menyimpang dari para leluhur ajarkan. Haji Waras, selaku kordinator pelaksana Nyadran di Bluru Sidoarjo mengatakan kerap menemukan beberapa masyarakat yang membuang ayam hidup ke dalam sungai. Padahal, menurutnya hal tersebut bukan bagian dari tradisi Nyadran. “Katanya minta keselaamatan, tapi tidak tahu itu ajaran siapa” tutur Waras.

Nyadran saat ini hanya menjadi tempat hiburan bagi remaja. Mereka bahkan mengikuti tradisi tersebut tanpa tahu apa maksud tujuannya. Bagi mereka, tradisi tahunan itu memang kewajiban. Bentuk syukuran kepada laut, dengan melaksanakan hiburan di tengah laut.

Mereka para peserta sibuk dengan minuman, sibuk dengan musik dan jogetan dari dentuman speaker yang saling bersinggungan.

Mereka lupa, tentang makna Nyadran yang sesungguhnya. Budaya selametan itu kini hanya menjadi hura-hura. Bahkan para warga mulai percaya bahwa tradisi ini lambat laun akan benar-benar hilang. Hanya sekedar menjadi ajang hiburan warga. Bukan makna Nyadran yang sesungguhnya.

Kupang, yang merupakan hasil laut mayoritas nelayan Bluru hanya akan berkisah tentang Nyadran yang penuh hura-hura. Para nelayan yang menginginkan selamatan ataupun syukur atas hasil laut yang didapatkannya selama setahun penuh, hanya menjadi ajang untuk menghabiskan minuman keras dengan porsi banyak.

Semoga saja tradisi ini tidak serta merta punah dengan hiburan semata dan melupakan tujuan awalnya. | Labibah

back to top