Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Budaya itu hilang dibalik pentas dangdut dan botol minuman

http://hurek.blogspot.com http://hurek.blogspot.com
Sidoarjo - KoPi | Pada tengah malam, di waktu manusia-manusia terlelap pada mimpinya. Sekerumunan orang mendayung menuju muara Sungai Kepetingan untuk meminta keselamatan. Sebelum fajar, mereka harus sampai, agar matahari tidak mengganggu kekhusyukan berdoa Masing-masing dari mereka membawa sesajen dengan tumpeng dari ayam panggang.

Tradisi itu dinamakan Nyadran. Budaya yang dilakukan masyarakat nelayan Bluru Sidoarjo ini telah berlangsung turun menurun dari nenek moyang. Mereka berbondong-bondong meminta keselamatan dan syukuran atas hasil laut yang didapatkan. Bagi mereka, laut yang merupakan tempat penghasil rezeki harus disyukuri dengan pemberian beberapa sesaji. Tradisi itu diakhiri dengan pembacaan tahlil di Makam Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri.

Sayang, tradisi yang diturunkan dari para leluhur ini kini kian terkikis dengan budaya-budaya baru dalam masyarakat. Nyadran yang awalnya bermakna selametan dengan ritual sakral kini hanya menjadi kegiatan hura hura masyarakat sekitar.

Budaya sakral Nyadran yang merupakan tradisi melarung sesajen dan tahlilan di Makam Dewi Sekardadu pada tengah malam justru hanya sebatas simbolik yang dilakukan para tetua untuk meminta keselamatan. Para nelayan hanya sekedar menitip sesajen dan doa yang akan dipanjatkan tetua tersebut pada saat fajar di makam Dewi Sekardadu.

Sedang para nelayan lainnya bersiap untuk menyambut tradisi Nyadran dengan tujuan berhura-hura. Mereka sibuk menghias kapal, menyetel sound dan orkes yang dimainkan di kapal. Mereka, para peserta Nyadran hanya sibuk dengan penyanyi dangdut yang akan tampil bernyanyi sambil joget saat berlayar. Juga sibuk mempersiapkan berapa botol minuman keras yang akan mereka habiskan saat tradisi tersebut berlangsung.

Bahkan, mereka membawa beberapa kepercayaan-kepercayaan sendiri yang menyimpang dari para leluhur ajarkan. Haji Waras, selaku kordinator pelaksana Nyadran di Bluru Sidoarjo mengatakan kerap menemukan beberapa masyarakat yang membuang ayam hidup ke dalam sungai. Padahal, menurutnya hal tersebut bukan bagian dari tradisi Nyadran. “Katanya minta keselaamatan, tapi tidak tahu itu ajaran siapa” tutur Waras.

Nyadran saat ini hanya menjadi tempat hiburan bagi remaja. Mereka bahkan mengikuti tradisi tersebut tanpa tahu apa maksud tujuannya. Bagi mereka, tradisi tahunan itu memang kewajiban. Bentuk syukuran kepada laut, dengan melaksanakan hiburan di tengah laut.

Mereka para peserta sibuk dengan minuman, sibuk dengan musik dan jogetan dari dentuman speaker yang saling bersinggungan.

Mereka lupa, tentang makna Nyadran yang sesungguhnya. Budaya selametan itu kini hanya menjadi hura-hura. Bahkan para warga mulai percaya bahwa tradisi ini lambat laun akan benar-benar hilang. Hanya sekedar menjadi ajang hiburan warga. Bukan makna Nyadran yang sesungguhnya.

Kupang, yang merupakan hasil laut mayoritas nelayan Bluru hanya akan berkisah tentang Nyadran yang penuh hura-hura. Para nelayan yang menginginkan selamatan ataupun syukur atas hasil laut yang didapatkannya selama setahun penuh, hanya menjadi ajang untuk menghabiskan minuman keras dengan porsi banyak.

Semoga saja tradisi ini tidak serta merta punah dengan hiburan semata dan melupakan tujuan awalnya. | Labibah

back to top