Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Aisyiyah sambut Hari Ibu dengan memastikan pembangunan berpihak pada perempuan

Aisyiyah sambut Hari Ibu dengan memastikan pembangunan berpihak pada perempuan

Jogja-KoPi| Hari ibu di Indonesia seharusnya dikaitkan dengan perjuangan perempuan di Indonesia terkait dengan Kongres Perempuan pertama yang diadakan di Jogjakarta pada tahun 22 Desember 1928.

Hal tersebut diungkapkan okeh Sini Noordjanah Djohantini pada pembukaan Dialog Publik Peringatan Hari Ibu dan Refleksi Akhir Tahun bertajuk “Memastikan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs) yang Berpihak Kepada Perempuan” yang diadakan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) (22/12).

Noor mengatakan bahwa berbicara hari ibu adalah bicara tentang perjuangan pergerakan Aisyiyah dan juga komunitas perempuan lainnya yang memperjuangkan kemajuan perempuan pada kongres perempuan pertama.

Noor mengatakan bahwa sangat relefan bila ‘Aisyiyah yang usianya sudah mulai memasuki abad kedua ingin terus meneguhkan agar perempuan bisa berkiprah lebih luas lagi, dan membantu mengambil peran untuk memperbaiki permasalahan yang ada di Indonesia.

“Pada peringatan hari ibu kali ini kita sedang merefleksikan masalah di Indonesia dan bila dikaitkan dengan SDGs yang menjadi bagian kelanjutan dari MDGs. Bila kita melihat SDGs dan MDGs itu lekat dengan wajah perempuan. Bagaimana tentang hambatan dan persoalan perempuan. Maka di sini hadir narasumber yang kompeten, kita bersama-sama bicara soal perjuangan bagaimana untuk kesejahteraan yang sama bagi laki-laki dan perempuan,” tutur Noor.

Dalam Dialog Publik kali ini hadir dua narasumber yaitu Diah S, Saminarsih, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs, serta Destri Handayani dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pada kesempatan tersebut, hadir audiens dari kalangan Muhammadiyah, Akademisi, LSM, Pemerintah juga mahasiswa.

Menurut Diah bahwa penting bagi anak muda untuk ikut andil dalam pencapaian SDGs karena sesungguhnya tujuan-tujuan SDGs adalah untuk memperbaiki masa sekarang untuk masa depan yang lebih baik. Dalam paparannya Diah menyampaikan materi mengenai Operasionalisasi Sebuah Agenda Global terkait Kesehatan Reproduksi dalam Kerangka Pembangunan Berkelanjutan.

“Bicara soal kesehatan dan perempuan ini terkait dengan goals 3 dan 5 yang merupakan tujuan SDGs untuk masa depan perempuan. Jadi menjadi penting pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi diketahui oleh semua pihak” Ungkap Diah.

Destri mengatakan, bahwa tujuan SDGs kali ini lebih komprehensif dibanding dengan Milenium Development Goals (MDGs). Dikatakannya, dalam pembuatan tujuan SDGs lebih mendengarkan semua pihak sehingga masalah yang tadinya tidak muncul ke permukaan menjadi muncul.

“Mengapa tujuan SDGs no one left behind itu karena kita mengakomodir semua kepentingan. Seperti yang tadinya netral gender sekarang lebih sensitive gender, artinya mengakomodasi kepentingan laki-laki dan perempuan yang berbeda,” ungkap Destri.

Dengan adanya dialog publik ini Noor berharap para peserta mampu lebih memahami secara komprehensif tentang tujuan, target, dan indikator SDGs yang tentunya akan memperbaiki masalah-masalah yang ada di Indonesia.

back to top