Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Tari klasik dan garapan mewarnai ‘Njemparing Rasa’

Tari klasik dan garapan mewarnai ‘Njemparing Rasa’

Siaran Perss


Yogyakarta-KoPi- Persiapan pementasan drama kolosal Sumantri-Sukasrana Njemparing Rasa, Menarik Busur Sejarah Membidik Masa Depan semakin intensif dilakukan. Latihan para aktor, musik, dan tari yang awalnya dilakukan secara terpisah, kini sudah mulai digabungkan. Salah satu yang menarik adalah dari tim tari. Njemparng Rasa akan dipentaskan di Lapangan Pacasila Grha Sabha Pramana UGM, Minggu (12/10).

Surono,  penata tari yang ditemui di sela-sela latihan mengungkapkan, konsep tari yang diusung dalam pementasan kali ini adalah penggabungan antara tari klasik dan garapan. Maksud garapan di sini adalah menggunakan beberapa properti, misalnya bendera atau yang lainnya.

“Tim tari terdiri atas 40 orang. Mereka dibagi dalam adegan raja, prajurit satu, prajurit dua, begaya, putri taman, dan putri njemparing,” ujarnya.
Para penari yang berasal dari berbagai latar belakang ini telah melakukan latihan sebanyak lima kali. Setelah itu, baru bergabung dengan yang lainnya.

“Mereka ada yang mahasiswa, ada juga seniman murni. Waktu untuk menggarap adalah tiga minggu, kemudian sharing kepada teman-teman. Sekarang sudah 75% fiks. Tinggal menggabungkan dengan iringan dan multimedia. Kalau dengan aktor, kami sudah cukup sering latihan bersama,” kata laki-laki yang sedang menempuh studi di ISI Yogya Jurusan Karawitan ini.

Selain itu, Surono juga mengungkapkan bahwa salah satu aktor, yakni Citrowati, harus melakukan tarian dalam sebuah adegan. Namun karena latar belakang aktor ini bukan penari, Surono memberikan gerakan yang simple. Hingga saat ini, latihan terus dilakukan. Harapannya, pentas drama kolosal yang akan diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan PKKH UGM tersebut dapat mengangkat keistimewaan Yogyakarta sebagai pijakan pembangunan karakter bangsa. *

back to top