Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Sukses Tahap Pertama, EDP Yogya Akan Lepas 7.300 Ember Telur Nyamuk Aedes aegipty Ber-Wolbachia di Tahap Dua

Sukses Tahap Pertama, EDP Yogya Akan Lepas 7.300 Ember Telur Nyamuk Aedes aegipty Ber-Wolbachia di Tahap Dua

EDP YOGYA- Setelah sukses dengan pelepasan Wolbachia tahap pertama dengan meletakkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di sejumlah wilayah di Kota Yogyakarta, Eliminate Dengue Project (EDP Yogya) akan melanjutkan pelepasan Wolbachia tahap kedua. Di tahap kedua ini, EDP Yogya meletakkan setidaknya 7.300 ember telur nyamuk Ae. aegipty ber-Wolbachia.

Pelepasan Wolbachia tahap pertama beberapa bulan lalu sangat sukses dan direspons positif oleh masyarakat. Salah satu kunci sukses EDP Yogya dapat diterima masyarakat adalah integrasi penelitian dengan kearifan masyarakat setempat. “Kami selalu berusaha mengintegrasikan penelitian ini dengan budaya Jogja,” tutur Prof. Adi Utarini, peneliti utama EDP Yogya beberapa waktu yang lalu.

Adi menjelaskan EDP-Yogya adalah kegiatan penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) yang dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran UGM dan didanai oleh Yayasan Tahija. “Kami mengembangkan metode alami untuk mengurangi kasus DBD dengan menggunakan bakteri Wolbachia,” lanjutnya.

Terkait penelitian yang memasuki tahap kedua dalam peletakan ember berisi telur ber-Wolbachia ini, ahli serangga EDP Yogya, Warsito Tantowijoyo mengatakan pihaknya akan meletakkan setidaknya 7.300 ember. “Di tahap pertama, kami sudah meletakkan lebih dari 2.000 ember di tujuh kelurahan,” jelas Warsito.

Menurut Warsito separuh dari ember-ember itu telah ditarik karena persentase Wolbachia telah cukup tinggi sehingga warga tidak perlu dititipi ember lagi. Warsito menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat Yogyakarta yang telah berkenan mengasuh ember berisi telur nyamuk itu. “Meski durasi peletakan lebih panjang dari waktu yang kami rencanakan, masyarakat tetap tidak keberatan. Kami menilai keterlibatan masyarakat dalam penelitian ini telah berperan besar dalam usaha pengendalian DBD di Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” ujar Warsito.

Koordinator Komunikasi dan Penyertaan Masyarakat EDP Yogya, Bekti Dwi Andari menjelaskan bahwa saat ini EDP Yogya tengah memulai fase pelepasan Wolbachia tahap lanjut dengan meletakkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di wilayah terpilih di Kota Yogyakarta. “Tahap ini kami tandai dengan mengadakan acara ‘Kenduri Warga’ yang kami adakan pada Rabu, 22 Maret 2017 di Pendopo Taman Siswa, Jl. Taman Siswa No. 25, Wirogunan, Yogyakarta,” ujar Bekti.

Hadir dalam acara ini Penjabat Walikota Yogyakarta, kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Perwakilan dari Dinas Kesehatan DIY, dan seluruh tamu undangan yang meliputi tokoh masyarakat Kota Yogyakarta. Dalam sambutannya, Penjabat Walikota Yogyakarta, Sulistyo mengajak seluruh warga Kota Yogyakarta untuk terlibat dalam penelitian. “Tadi saya mendapat update dari Prof. Uut (peneliti utama EDP Yogya) bahwa ada indikasi keberhasilan di Kelurahan Kricak,” jelasnya.

Bekti menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan seniman teater Yogyakarta dalam menggelar perhelatan ini. Susunan acara diisi dengan pertunjukan budaya setempat seperti mocopatan dan guyon maton. “Sengaja acara kami buat seperti ini sebagai rasa terima kasih kami kepada masyarakat Jogja yang mendukung kami selama ini,” imbuh Bekti.

Nuansa EDP Yogya yang kental dengan ciri khas budaya Yogyakarta tidak hanya dalam hal ini saja. Wolly, maskot EDP Yogya, juga didominasi hiasan batik yang merupakan budaya setempat. “Konsepnya melibatkan tokoh masyarakat Yogya, agar mudah diterima sebagai media sosialisasi,” lanjut Bekti.

Menurutnya, sosialisasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam penelitian yang juga kental dengan keterlibatan masyarakat ini. Bekti berharap pelepasan Wolbachia tahap kedua ini bisa menyusul kesuksesan pelepasan fase pertama sehingga bisa mengurangi serangan DBD.

Sosialisasi juga merupakan alasan utama di balik diadakannya Kompetisi Film Pendek Pelajar 2017 dengan tema “DBD Ora Wae”. Kompetisi ini menghasilkan 15 film pendek yang tiga pemenangnya berhasil memukau undangan saat diputar dalam syukuran sore itu.

Untuk Informasi Lebih Lanjut :
Bekti Andari
Communication and Engagement Team Leader
Eliminate Dengue Project Yogyakarta
Gedung Pusat Antar Universitas (PAU)Jl. Teknika Utara Barek, Yogyakarta 552281
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. | Phone: 081 7410 4701|
Website : www.eliminatedengue.or.id | Facebook: EDP Yogya | Instagram : edpyogya

back to top