Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Seminar LENSA: Menyibak Tirai Media Baru

Seminar LENSA: Menyibak Tirai Media Baru

Jogja-KopI| Memasuki era digital ini, banyak media baru yang berkembang di masyarakat. Tanpa disadari, kehadiran media baru ini perlahan-lahan merubah tatanan sosial dalam masyarakat sehingga terjadi pengaburan pada pemahaman masyarakat mengenai public space dan private space.

Demikian materi yang disampaikan kedua pemakalah dalam seminar LENSA (Lingkaran Penelitian dan Sharing) yang diadakan pada 8 Desember 2015 mengenai “Media Selalu Untung: Foodgram dalam Perkembangan Kuliner Yogyakarta)” oleh Yohanes Advent Krisdamarjati dan “Harrasment sebagai ‘Pasangan Tak Diperhatikan’ Mahasiswa di Yogyakarta” oleh Paulus Angre Edvra.

Advent membicarakan mengenai kegiatan foodgram yang berkembang dalam masyarakat informasi. Kegiatan makan tidak lagi menjadi sebuah kegiatan makan biasa, melainkan sudah menjadi sebuah gaya hidup. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi karena adanya perkembangan media baru saja, melainkan ada sebuah sistem yang dibangun oleh pemilik akun Instagram @ceritamakan dalam mengelola akun Instagramnya untuk menarik perhatian masyarakat terutama kalangan muda.

Advent menemukan bahwa berkembangnya foodgram ternyata berbanding lurus dengan perkembangan usaha kuliner di Yogyakarta. Secara keseluruhan, Advent melihat bahwa media memainkan peran penting dalam geliat ekonomi, salah satunya adalah media promosi. Foodgram dikelola dengan sistem dan motif yang sama dengan media raksasa, sekecil apapun sebuah media komersil, akan memiliki pola dan perilaku yang sama. Artinya, usaha foodgram dapat meraup keuntungan dari persaingan para pengusaha kuliner, entah si pengusaha kuliner untung atau rugi, bertahan atau tidak, foodgram tetap akan bertahan sebagai media promosi makanan. Bagaikan memancing di air keruh. Media akan selalu untung.
Acara seminar ini berlangsung semakin meriah, setelah Angre menyampaikan makalahnya dengan judul

“Harrasment sebagai ‘Pasangan Tak Diperhatikan’ Mahasiswa di Yogyakarta.” Harrasment merupakan salah satu bentuk cyberbullying yang jarang disadari oleh masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor dalam diri seorang mahasiswa bukanlah menjadi faktor tunggal yang mendasari terjadinya praktik harassment.

Ada banyak faktor lain di luar diri mahasiswa yang bisa mendasari mereka untuk menjadi pelaku atau korban dari harassment. Faktor-faktor semacam pengalaman di masa lalu, relasi dengan orang lain seperti orang tua dan lingkungan pertemanan juga menjadi hal yang mendasari praktik harassment bisa terjadi pada mahasiswa.

Menurut Angre, harassment di internet lebih berdampak dibandingkan harassment secara langsung di dunia nyata. Dampak yang dimaksud di sini ada dalam konteks psychological bullying, bukan physical bullying. Artinya, harassment di dunia cyber memiliki dampak psikis lebih besar. hal itulah yang kemudian mendasari korban harassment menggunakan strategi penghindaran posisi ter-bully yang berbeda dengan strategi yang mereka gunakan ketika mendapat harassment secara langsung di dunia nyata. Ketakutan akan penilaian sosial dari orang–orang di jejaring sosial yang tidak tahu konteks harassment menjadi salah satu alasan mengapa harassment di internet berdampak lebih besar.

Kehadiran Dr. Suzie Handajani atau dikenal dengan Mbak Suzie selaku dosen Bidang Kajian Media dan Budaya UGM dalam Seminar LENSA ini sebagai pembahas. Mbak Suzie sangat setuju dengan pemahaman harrasment karena melihat pandangan masyarakat mengenai risk perception perlu ditingkatkan. Sering kali masyarakat tidak menyadari adanya harassment itu sendiri, apalagi dengan adanya konsep media baru ini untuk mengidentifikasi sebuah ejekan yang berulang kali sering ditanggapi sebagai sebuah candaan biasa.

Seminar LENSA yang berlangsung setiap akhir semester ini diselenggarakan oleh FISIP UAJY. Seminar ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para mahasiswa dan masyarakat luas dalam memahami konsep media baru dan menjadi ajang bertukar pikiran para pemakalah dan peserta. Diskusi ini pun bisa meningkatkan kesadaran pada masyarakat agar jeli terhadap arus informasi yang sangat cepat dan mudah untuk diakses. Pada era masyarakat informasi ini, masyarakat diajak untuk mampu membagi ruang antara public space dan private space.

back to top