Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Sadranan/Ruwahan Kelurahan Gedongkiwo

Sadranan/Ruwahan Kelurahan Gedongkiwo

Siaran Pers

Yogyakarta-KoPi-Sadranan/Ruwahan merupakan salah satu tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat Yogyakarta meskipun saat ini sudah mulai luntur.  Disebut “ruwahan” karena tradisi tersebut dilakukan di bulan Ruwah (penanggalan Jawa) yang dalam penanggalan hijriyah disebut bulan Sya’ban yaitu sebelum menginjak bulan Ramadhan. Sedangkan “sadranan” sendiri berasal dari kata Srada yaitu istilah yang digunakan umat Hindu sejak jaman kerajaan Majapahit, untuk sebuah upacara pemuliaan roh leluhur yang telah meninggal. Dari Srada itulah kemudian dikenal dengan tradisi Nyadran atau Sadranan. Pada hakekatnya tradisi ruwahan atau nyadran tak jauh berbeda yaitu mendoakan para leluhur yang telah mendahului kita.

Dalam tradisi ruwahan atau sadranan sangat kental terasa nilai-nilai tradisi budaya Jawa yaitu semangat gotong royong dan guyub rukun dan saling membantu. Semangat tersebut perlu terus dilestarikan. Hal inilah yang ingin dikembangkan melalui kegiatan Ruwahan/Sadranan di kelurahan Gedongkiwo dengan menyesuaikan perkembangan jaman tanpa mengurangi esensi dan makna dari ruwahan/sadranan tersebut. 

Rangkaian tradisi nyadran/ruwahan akan diawali dengan pembuatan ketan, kolak dan apem. Pada hari pertama (Sabtu, 7/6) setiap warga RT berkumpul di suatu tempat di RT masing-masing, pada malam hari bekerjasama membuat adonan kue apem dan persiapan lainnya. Hari Sabtu malam  akan dilaksanakan doa keselamatan miwiti ngebluk akan dipusatkan di Pendopo Cokrosenan, setelah itu secara serempak dikerjakan ngebluk oleh warga Gedongkiwo di wilayah RT masing-masing. Di pendopo Cokrosenan dilanjutkan sarasehan tentang tradisi sadranan/ruwahan dengan nara sumber pakar budaya dengan selingan grup musik bambu. Sementara itu di sepanjang jalan protokol Gedongkiwo akan dipasang tenda untuk berjualan dan pameran produksi lokal baik kerajinan maupun kuliner.

Hari Minggu (8/6) jam 15.00 di pendopo Cokrosenan, warga RT membawa ketan, kolak dan apem lengkap di atas nampan tambir yang dihias daun pisang yang dipersiapkan masing-masng RT untuk dikirab keliling kampung Gedongkiwo. Iringan kirab diawali drum band TK ABA, drum band SMP Al-Islam, bergodo Nitimanggolo, dan warga masyarakat. Dan pada malam harinya diselenggarakan pentas kesenian di pendopo Cokrosenan,  balai RK Gedongkiwo dan pendopo Herjanan.

back to top