Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Rupa-Rupa Seni Rupa: Nandur Srawung

Painted by Yoyo Painted by Yoyo

Yogyakarta- KoPi- Dalam upaya memetakan dinamika medan seni rupa Yogyakarta, Taman Budaya Yogyakarta akan menyelenggarakan pameran dengan tajuk “Rupa-Rupa Seni Rupa” yang akan berlangsung pada tanggal 17-26 November 2014 di gedung pameran Taman Budaya Yogayakarta. Tema besar yang diusung lewat pameran kali ini adalah ‘City Of Philosophy’.

Lewat tema tersebut, pameran kali ini berusaha untuk memunculkan pandangan mengenai bagaimana benda-benda maupun objek yang dianggap Seni bersinggungan dengan realitas keseharian hidup, terutama kondisi sosial yang sehari-hari dihadapi oleh masyarakat Yogyakarta.   
   
Karena mendasarkan diri pada realitas keseharian masyarakat Yogya, maka pameran ini berkeinginan menyisir bentuk maupun aktivitas berkesenian di kota Yogyakarta. Adapun laku penyisiran dimulai dari kantong-kantong komunitas seni yang hidup di Yogyakarta.

Kebanyakan komunitas seni rupa di kota ini hidup dengan cara menunjukkan kemauan untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan orang lain, kemauan untuk bertamu, mengenali perbedaan, serta berinteraksi lewat praktik sosial. Pameran kali ini, kurang lebih, mau menunjukkan kecenderungan semacam itu melalui tangan-tangan seniman pameran yang berjumlah kurang lebih 500 orang. Sejumlah seniman tersebut dibagi lagi ke dalam sejumlah divisi, yakni seni grafis, komik, seni lukis, patung, pop culture, desain, new media, kriya, tato, serta mural. Dan masing-masing divisi ditangani oleh seorang kurator/elaborator.  
   
Lebih jauh lagi, istilah nandur srawung digunakan sebagai tema pameran untuk melihat kembali semangat interaksi sosial dalam masyarakat hari ini. Interaksi sosial yang sudah banyak berubah yang dipengaruhi oleh teknologi komunikasi, struktur sosial, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Nandur Srawung menjadi sebuah ajakan untuk memahami kembali filosofi masyarakat dalam memelihara solidaritas, kepekaan sosial, dan penghargaan atas perbedaan. Sebuah investasi untuk membuka imajinasi kita tentang realitas sosial masa depan kita bersama.   

Yogyakarta, 12 November 2014

Drs. Suharyatmo
Ketua Panitya

 

back to top