Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

“Potehi Reborn”: Menghidupkan Kembali Wayang Potehi

“Potehi Reborn”: Menghidupkan Kembali Wayang Potehi

Surabaya-KoPi|  Wayang Potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang dibawa para pedagang Tiongkok ke Nusantara pada sekitar abad 16, dan saat ini telah menjadi bagian dari kesenian tradisional Indonesia.

Keragaman jenis, filosofi dibalik cerita tokoh-tokoh maupun nilai-nilai budaya yang terkandung sangat menarik untuk diangkat yang menjadi dasar House of Sampoerna untuk bekerjasama dengan Yayasan Po Tee Hie FU HE AN, Gudo, Jombang, menggelar pameran dengan tajuk “Potehi Reborn” yang diselenggarakan di Galeri House of Sampoerna pada tanggal 20 Januari – 25 Februari 2017.   

Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dengan keragaman cerita, tokoh-tokoh beserta filosofinya. Dulunya Wayang Potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik Tiongkok seperti legenda dinasti-dinasti yang ada di Tiongkok.

Akan tetapi saat ini Wayang Potehi sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik seperti novel Se Yu (Pilgrimage to the West) dengan lakon tersohornya Kera Sakti juga Sampek Engtay, legenda dari Tiongkok bercerita mengenai tragedi romantika antara dua kekasih, Sampek dan Engtay yang termasuk dalam 100 tokoh wayang koleksi milik Yayasan Po Tee Hie FU HE AN yang dipamerkan.

Yayasan Po Tee Hie FU HE AN didirikan oleh Toni Harsono Sang Marcenas dari Gudo sebagai wadah bagi para penggiat Wayang Potehi, dalang dan pemain musik. Dilatarbelakangi oleh keinginan menggelorakan semangat keberagaman budaya nusantara, yayasan ini menggelar pertunjukan wayang di banyak tempat.

Tak hanya di Klenteng, yayasan yang mempunyai makna rezeki dan keselamatan ini juga tampil di mal, kampus, gereja dan pesantren. Selain itu agar para generasi muda dan pemerhati Wayang Potehi semakin mengenal sejarahnya, pendiri secara swadaya tengah membangun ruang pamer atau museum berisikan Wayang Potehi dan wayang-wayang Nusantara.

Museum ini rencananya juga akan dilengkapi dengan panggung terbuka untuk pertunjukan seni, perpustakaan, tempat belajar dan riset bagi akademisi serta workshop dimana setiap pengunjung bisa melihat dan belajar pembuatan wayang potehi mulai dari mengukir, mengecat dan proses penyempurnaan.

“Melalui kegiatan gelaran pertunjukan wayang serta pameran baik nasional maupun internasional, diharapkan dapat memperkenalkan lebih luas Wayang Potehi agar timbul pemahaman dan kecintaan akan kesenian ini. Museum yang sedang dibangun diharapkan dapat memperkuat pemahaman dari sisi sejarah Wayang Potehi.” ujar Toni Harsono saat mengekspresikan harapannya.

back to top