Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

“Potehi Reborn”: Menghidupkan Kembali Wayang Potehi

“Potehi Reborn”: Menghidupkan Kembali Wayang Potehi

Surabaya-KoPi|  Wayang Potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang dibawa para pedagang Tiongkok ke Nusantara pada sekitar abad 16, dan saat ini telah menjadi bagian dari kesenian tradisional Indonesia.

Keragaman jenis, filosofi dibalik cerita tokoh-tokoh maupun nilai-nilai budaya yang terkandung sangat menarik untuk diangkat yang menjadi dasar House of Sampoerna untuk bekerjasama dengan Yayasan Po Tee Hie FU HE AN, Gudo, Jombang, menggelar pameran dengan tajuk “Potehi Reborn” yang diselenggarakan di Galeri House of Sampoerna pada tanggal 20 Januari – 25 Februari 2017.   

Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dengan keragaman cerita, tokoh-tokoh beserta filosofinya. Dulunya Wayang Potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik Tiongkok seperti legenda dinasti-dinasti yang ada di Tiongkok.

Akan tetapi saat ini Wayang Potehi sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik seperti novel Se Yu (Pilgrimage to the West) dengan lakon tersohornya Kera Sakti juga Sampek Engtay, legenda dari Tiongkok bercerita mengenai tragedi romantika antara dua kekasih, Sampek dan Engtay yang termasuk dalam 100 tokoh wayang koleksi milik Yayasan Po Tee Hie FU HE AN yang dipamerkan.

Yayasan Po Tee Hie FU HE AN didirikan oleh Toni Harsono Sang Marcenas dari Gudo sebagai wadah bagi para penggiat Wayang Potehi, dalang dan pemain musik. Dilatarbelakangi oleh keinginan menggelorakan semangat keberagaman budaya nusantara, yayasan ini menggelar pertunjukan wayang di banyak tempat.

Tak hanya di Klenteng, yayasan yang mempunyai makna rezeki dan keselamatan ini juga tampil di mal, kampus, gereja dan pesantren. Selain itu agar para generasi muda dan pemerhati Wayang Potehi semakin mengenal sejarahnya, pendiri secara swadaya tengah membangun ruang pamer atau museum berisikan Wayang Potehi dan wayang-wayang Nusantara.

Museum ini rencananya juga akan dilengkapi dengan panggung terbuka untuk pertunjukan seni, perpustakaan, tempat belajar dan riset bagi akademisi serta workshop dimana setiap pengunjung bisa melihat dan belajar pembuatan wayang potehi mulai dari mengukir, mengecat dan proses penyempurnaan.

“Melalui kegiatan gelaran pertunjukan wayang serta pameran baik nasional maupun internasional, diharapkan dapat memperkenalkan lebih luas Wayang Potehi agar timbul pemahaman dan kecintaan akan kesenian ini. Museum yang sedang dibangun diharapkan dapat memperkuat pemahaman dari sisi sejarah Wayang Potehi.” ujar Toni Harsono saat mengekspresikan harapannya.

back to top