Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Integritas Pelaksanaan UN meningkat, Capaian UN Murni SMA/MA meningkat

Integritas Pelaksanaan UN meningkat, Capaian UN Murni SMA/MA meningkat

Jakarta-KoPi| Tahun ini Indonesia mengukir sejarah baru dalam penggunaan teknologi dalam ujian terstandar dengan terlaksananya ujian nasional berbasis komputer di 30.577 sekolah/madrasah/PKBM yang diikuti oleh 3.731.099 siswa dan peserta kegiatan belajar mengajar.

UN jenjang SMA telah terlaksana mulai dari tanggal 3 April hingga terakhir ujian susulan pada tanggal 19 April 2017 (kecuali DKI terakhir tanggal 20 April 2017).

Pada jenjang pendidikan menengah, UN diikuti oleh 1.312.023 siswa dari 12.501 SMK, serta 2.301.176 siswa dari 20.512 SMA/MA/sederajat. Untuk jenjang SMK, 1,176 juta siswa (90%) dilayani dengan komputer (UNBK), sementara pada jenjang SMA/MA 1,145 juta siswa (60%) dilayani dengan UNBK. Sisanya mengikuti ujian berbasis kertas dan pensil (UNKP).

Peningkatan jumlah peserta UNBK dari tahun 2016 ke tahun 2017 mencapai 410%, sementara peningkatan jumlah sekolah yang mengikuti UNBK mencapai 760%.

Pada jenjang SMK, Provinsi Bangka-Belitung, DKI, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan telah 100% menggunakan UNBK. Sementara pada jenjang SMA/MA, Provinsi Bangka-Belitung, DKI, dan DIY telah 100% menggunakan UNBK.

Pelaksanaan UN melibatkan tidak kurang dari 800.000 guru sebagai pengawas dan 300.000 proktor dari seluruh sekolah/madrasah yang mengikuti UN.

Pelaksanaan UN tahun ini berjalan dengan sangat lancar dan relatif tidak banyak kendala/masalah. Laporan kebocoran soal dan kecurangan jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Gangguan teknis pelaksanaan UNBK seperti listrik padam, gangguan koneksi internet, kerusakan server/komputer di sekolah, semuanya dapat diatasi baik oleh tim teknis di Provinsi maupun oleh tim Posko UNBK Pusat.

Banyak praktek baik yang dapat digali dari pelaksanaan UNBK, seperti berbagi sumber daya (resource sharing) antar sekolah, gotong royong untuk melaksanakan UNBK, maupun kerja sama positif antar para pihak dalam pelaksanaan UNBK. Kerjasama yang sangat kompak terjadi antara Kemdikbud, Kemenag, Kemdagri, Kemkominfo, Lemsaneg, Perguruan Tinggi, BPPT, Dinas Pendidikan, Kanwil & Kantor Kemenag, LPMP, PLN, penyedia jaringan internet, kepala sekolah, pengawas, guru, komunitas TIK, siswa dalam mensukseskan UN, khususnya UNBK.

Perpindahan masif dari UNKP menjadi UNBK meningkatkan kejujuran/integritas pelaksanaan ujian, sehingga meningkatkan kehandalan hasilnya. Pada jenjang SMA/MA, sekolah yang tahun lalu integritasnya tinggi atau sudah mengikuti UNBK, capaiannya meningkat 3,39 poin.

Sementara sekolah yang tahun lalu mengikuti UNKP dengan diwarnai kecurangan (tingkat IIUN rendah) dan tahun ini mengikuti UNBK capaiannya mengalami penurunan/koreksi yang cukup signifikan. Hal senada juga ditunjukkan oleh hasil sekolah UNKP. Sekolah UNKP ber-indeks-integritas UN tinggi yang berhasil mempertahankan integritasnya di tahun 2017, mengalami peningkatan nilai UN sebesar 1,8 poin. Sedangkan sekolah UNKP yang dulunya ber-indeks-integritas rendah namun tahun ini berhasil meningkatkan integritasnya dalam pelaksanaan UN (IIUN menjadi tinggi) nilai UN nya terkoreksi/mengalami penurunan signifikan.

Hasil menggembirakan juga ditunjukkan oleh provinsi-provinsi yang pada tahun-tahun sebelumnya memiliki IIUN tinggi kemudian di tahun 2017 seluruh sekolah di wilayahnya beralih moda tes menjadi UNBK.  Nilai UN ketiga provinsi tersebut meningkat (Bangka Belitung  4,31 poin, DIY 4,2 poin, dan DKI Jakarta 2,07 poin).

Sebaliknya provinsi yang di tahun 2016 rendah integritasnya, ketika beralih ke UNBK menunjukkan penurunan nilai. Hasil tersebut menjadi indikator bahwa UNBK adalah moda pengadministrasian tes yang lebih menjamin integritas pelaksanaan dan memberi gambaran capaian yang sesungguhnya.

Kenaikan nilai UN yang menggembirakan juga ditunjukkan pada capaian nilai mata pelajaran pilihan. Kebijakan mata pelajaran pilihan memungkinkan siswa untuk memilih mata pelajaran yang paling disukainya. Dampak pemilihan berdasar kesukaan tersebut terlihat dari peningkatan nilai mata pelajaran pilihan. Nilai kimia pada sekolah penyelenggara UNBK meningkat 9,04 poin, nilai ekonomi meningkat 9,70 poin, dan nilai sosiologi meningkat 12,92 poin.

Di balik kabar baik tentang peningkatan integritas dan peningkatan nilai UN murni, yang paling penting dari hasil UN adalah tindak lanjutnya. Data dan peta capaian yang rinci dan handal telah diperoleh, baik dari hasil UNBK maupun UNKP yang meningkat IIUNnya, hendaknya hasil tersebut dapat dijadikan dasar perencanaan dan intervensi yang tepat untuk menata langkah perbaikan.

Tindak lanjut harusnya dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, sekolah, maupun guru. Hasil perbaikan yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah melalui pelatihan guru-guru dari sekolah dengan capaian rendah menunjukkan hasil perbaikan capaian yang signifikan di tahun berikutnya.

Pemanfaatan di tingkat sekolah juga dapat dilakukan dengan mendiagnosa kesalahan yang dilakukan siswa pada butir-butir soal dengan capaian rendah. Sehingga UN sebagai alat evaluasi pembelajaran dapat termanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Jakarta, 12 Mei 2017

Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: www.kemdikbud.go.id

back to top