Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Greenpeace Indonesia terus berjuang menolak PLTU Batang

Greenpeace Indonesia terus berjuang menolak PLTU Batang

Jogja-KoPi| Tujuh orang perwakilan warga Batang yang tergabung dalam Paguyuban UKPWR hari ini tiba di Jogjakarta. Dalam perjalanannya warga membagi kisah perjuangan empat tahun menolak rencana pembangunan PLTU Batang kepada jurnalis serta beberapa komunitas lokal di Jogjakarta.

Perjalanan yang disebut perjalanan ‘Warga Mengadu’ di Jogja, para perwakilan warga juga akan berkunjung ke Rembang untuk bertemu dengan Gus Mus, dan ke Solo berencana menemui ibunda dari Bapak Jokowi.

Sejak 2011, warga Batang telah berjuang mempertahankan lingkungan dan kehidupan mereka yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTU. Warga Batang telah melakukan puluhan aksi di Jakarta dan Batang termasuk melakukan audiensi ke sejumlah kementerian terkait, hingga berangkat ke Jepang untuk bertemu investor.
Terakhir, warga melakukan aksi di depan Istana Negara pada Oktober 2015 lalu, dan berharap dapat menemui Presiden Joko Widodo secara langsung, namun upaya ini berakhir dengan pembubaran aksi dan penahanan 43 orang aktivis dan warga yang mengikuti aksi.

Tidak jarang dalam melakukan perjuangan penolakan tersebut, sejumlah warga kerap mendapatkan intimidasi, tindakan represif bahkan hingga kriminalisasi. Semua upaya di atas belum juga membuahkan hasil, hingga bahkan Presiden Joko Widodo diminta oleh pemrakarsa proyek untuk ‘meresmikan’ pembangunan PLTU Batang pada Agustus tahun lalu kendati pembebasan lahan belum tuntas.

Area yang diusulkan untuk Pembangkit Listrik Batubara terletak di atas sawah yang subur dan laut sumber lahan perikanan yang sangat produktif bagi petani dan nelayan di daerah sekitar. Masyarakat khawatir bahwa mata pencaharian mereka akan hancur jika PLTU tetap dibangun.

Kini warga mencoba mencari cara lain dengan melakukan perjalanan ‘Warga Mengadu’ dan bertemubeberapa tokoh untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan mereka.

“Perusahaan terkait harus menghentikan intimidasi dan represi terhadap masyarakat lokal. Pemerintah harus mendengarkan suara rakyat dan memastikan hak-hak asasi mereka dilindungi” kata Arif Fiyanto, Team Leader Kampanye Iklim dan Energi, Greenpeace Indonesia.

back to top