Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

SMRC: Kesalahan quick count pada IT

SMRC: Kesalahan quick count pada IT

Jakarta-Kopi. Polemik tentang akurasi dan validitas lembaga survey yang menjalankan aktivitas quick count (QC) masih berlanjut. Setiap lembaga survey mendapatkan keharusan mengklarifikasi aspek metodenya secara ilmiah. Salah satu lembaga survey tersebut adalah SMRC yang melakukan klarifikasi.

Klarifikasi metode DC Pilpres 2014 oleh SMRC disampaikan oleh Direktur Risetnya, Dr. Djayadi Hanan melalui situs mereka, sebagai berikut:

Beberapa saat setelah SMRC mengumumkan hasil hitung cepat (quick count), beberapa orang yang mengakses dan menyimak tayangan grafik hitung cepat SMRC mempertanyakan seputar stabiltas suara yang dianggap tidak konsisten alias mengalami perubahan pola. Inkonsistensi pada grafik ini menimbulkan kebingungan dan sejumlah pertanyaan (juga kecurigaan) terhadap metode dan cara kerja SMRC.

Informasi seputar inkonsistensi grafik SMRC itu pun menyebar dengan cepat dan dibumbui berbagai macam penjelasan yang intinya ingin mendelegitimasi cara kerja dan metodologi hitung cepat SMRC. Untuk itulah, tim riset SMRC menuliskan makalah panjang ini, sebagai keterangan tentang metodologi yang digunakan SMRC dan penjelasan tentang persoalan stabilitas suara yang sempat menghebohkan itu.

Intinya, makalah itu menjelaskan bahwa masalah grafik stabilitas dalam hitung cepat SMRC disebabkan oleh kesalahan dari sisi algoritma dan pemrograman IT, bukan karena intervensi manual. Dan yang paling penting, masalah grafik stabilitas tersebut sama sekali tidak berpengaruh terhadap proses penghitungan total perolehan suara calon maupun penghitungan statistik-statistik lainnya. Hal ini dikarenakan grafik stabilitas dibuat melalui proses yang terpisah dari penghitungan statistik yang lain.

Sumber: http://www.saifulmujani.com/

 

 

 

back to top