Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Siapa curang dalam quick count?

foto: politik.kompasiana.com foto: politik.kompasiana.com

Jakarta-KoPi. Masyarakat Indonesia berada dalam ketidakpastian paska lembaga-lembaga survey menayangkan hasil quick count yang bertentangan. Melalui TV One, televisi yang menjadi corong Prabowo-Hatta, menampilkan lembaga-lembaga survey yang menempatkan pasangan tersebut sebagai pemenang. Sebaliknya Metro TV menampilkan lembaga-lembaga survey yang memenangkan pasangan capres Jokowi dan Jusuf Kalla.

Mengapa bisa berbeda? Menurut Novri Susan, dosen sosiologi Universitas Airlangga perbedaan dalam hasil survey, jajak pendapat (polling, red.) dan quick count sangat dipengaruhi oleh kedalaman metode penelitian. Kedalaman tersebut adalah jumlah sample, representasi wilayah, dan akurasi tabulasi data.

"Survey dan jajak pendapat itu merupakan metode kuantitatif yang mencari kecenderungan persepsi. Tidak tepat seratus persen, yang digambarkan oleh margin error antara 1-2.5 persen. Makin kecil margin error berarti jumlah sample makin besar".

Menyikapi kasus perang quick count, menurut sosiolog yang juga menjadi kepala sociology center Unair ini, perlu uji kedalaman metode dari masing-masing lembaga survey. Selain itu menurutnya rekam jejak lembaga survey bisa juga digunakan untuk menilai kredibilitas. Apakah lembaga survey abal-abal atau profesional.

"Rekam jejak yang jelas dan terbukti akurat merupakan cara sederhana untuk melihat kredibilitas lembaga survey. Jika kantor saja tidak jelas, bagaimana bisa disebut kredibel?"*

 

*E. Hermawan

back to top