Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Siapa curang dalam quick count?

foto: politik.kompasiana.com foto: politik.kompasiana.com

Jakarta-KoPi. Masyarakat Indonesia berada dalam ketidakpastian paska lembaga-lembaga survey menayangkan hasil quick count yang bertentangan. Melalui TV One, televisi yang menjadi corong Prabowo-Hatta, menampilkan lembaga-lembaga survey yang menempatkan pasangan tersebut sebagai pemenang. Sebaliknya Metro TV menampilkan lembaga-lembaga survey yang memenangkan pasangan capres Jokowi dan Jusuf Kalla.

Mengapa bisa berbeda? Menurut Novri Susan, dosen sosiologi Universitas Airlangga perbedaan dalam hasil survey, jajak pendapat (polling, red.) dan quick count sangat dipengaruhi oleh kedalaman metode penelitian. Kedalaman tersebut adalah jumlah sample, representasi wilayah, dan akurasi tabulasi data.

"Survey dan jajak pendapat itu merupakan metode kuantitatif yang mencari kecenderungan persepsi. Tidak tepat seratus persen, yang digambarkan oleh margin error antara 1-2.5 persen. Makin kecil margin error berarti jumlah sample makin besar".

Menyikapi kasus perang quick count, menurut sosiolog yang juga menjadi kepala sociology center Unair ini, perlu uji kedalaman metode dari masing-masing lembaga survey. Selain itu menurutnya rekam jejak lembaga survey bisa juga digunakan untuk menilai kredibilitas. Apakah lembaga survey abal-abal atau profesional.

"Rekam jejak yang jelas dan terbukti akurat merupakan cara sederhana untuk melihat kredibilitas lembaga survey. Jika kantor saja tidak jelas, bagaimana bisa disebut kredibel?"*

 

*E. Hermawan

back to top