Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Siapa curang dalam quick count?

foto: politik.kompasiana.com foto: politik.kompasiana.com

Jakarta-KoPi. Masyarakat Indonesia berada dalam ketidakpastian paska lembaga-lembaga survey menayangkan hasil quick count yang bertentangan. Melalui TV One, televisi yang menjadi corong Prabowo-Hatta, menampilkan lembaga-lembaga survey yang menempatkan pasangan tersebut sebagai pemenang. Sebaliknya Metro TV menampilkan lembaga-lembaga survey yang memenangkan pasangan capres Jokowi dan Jusuf Kalla.

Mengapa bisa berbeda? Menurut Novri Susan, dosen sosiologi Universitas Airlangga perbedaan dalam hasil survey, jajak pendapat (polling, red.) dan quick count sangat dipengaruhi oleh kedalaman metode penelitian. Kedalaman tersebut adalah jumlah sample, representasi wilayah, dan akurasi tabulasi data.

"Survey dan jajak pendapat itu merupakan metode kuantitatif yang mencari kecenderungan persepsi. Tidak tepat seratus persen, yang digambarkan oleh margin error antara 1-2.5 persen. Makin kecil margin error berarti jumlah sample makin besar".

Menyikapi kasus perang quick count, menurut sosiolog yang juga menjadi kepala sociology center Unair ini, perlu uji kedalaman metode dari masing-masing lembaga survey. Selain itu menurutnya rekam jejak lembaga survey bisa juga digunakan untuk menilai kredibilitas. Apakah lembaga survey abal-abal atau profesional.

"Rekam jejak yang jelas dan terbukti akurat merupakan cara sederhana untuk melihat kredibilitas lembaga survey. Jika kantor saja tidak jelas, bagaimana bisa disebut kredibel?"*

 

*E. Hermawan

back to top