Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Siapa curang dalam quick count?

foto: politik.kompasiana.com foto: politik.kompasiana.com

Jakarta-KoPi. Masyarakat Indonesia berada dalam ketidakpastian paska lembaga-lembaga survey menayangkan hasil quick count yang bertentangan. Melalui TV One, televisi yang menjadi corong Prabowo-Hatta, menampilkan lembaga-lembaga survey yang menempatkan pasangan tersebut sebagai pemenang. Sebaliknya Metro TV menampilkan lembaga-lembaga survey yang memenangkan pasangan capres Jokowi dan Jusuf Kalla.

Mengapa bisa berbeda? Menurut Novri Susan, dosen sosiologi Universitas Airlangga perbedaan dalam hasil survey, jajak pendapat (polling, red.) dan quick count sangat dipengaruhi oleh kedalaman metode penelitian. Kedalaman tersebut adalah jumlah sample, representasi wilayah, dan akurasi tabulasi data.

"Survey dan jajak pendapat itu merupakan metode kuantitatif yang mencari kecenderungan persepsi. Tidak tepat seratus persen, yang digambarkan oleh margin error antara 1-2.5 persen. Makin kecil margin error berarti jumlah sample makin besar".

Menyikapi kasus perang quick count, menurut sosiolog yang juga menjadi kepala sociology center Unair ini, perlu uji kedalaman metode dari masing-masing lembaga survey. Selain itu menurutnya rekam jejak lembaga survey bisa juga digunakan untuk menilai kredibilitas. Apakah lembaga survey abal-abal atau profesional.

"Rekam jejak yang jelas dan terbukti akurat merupakan cara sederhana untuk melihat kredibilitas lembaga survey. Jika kantor saja tidak jelas, bagaimana bisa disebut kredibel?"*

 

*E. Hermawan

back to top