Menu
Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Muda Muslim Penting Untuk Cegah Radikalisme

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Mud…

Bantul-KoPi| Radikalisa...

Menteri Nurbaya cabut gugatan pencemaran Laut Timor

Menteri Nurbaya cabut gugatan pence…

Kupang-KoPi| Korban pen...

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Demokrasi

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Dem…

Gresik-KoPi| Di peringa...

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Digital  melalui Acara ‘Digital Future Discussion’

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Dig…

Sleman-KoPi|Seiring den...

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat Jadikan Investasi Sebagai Gaya Hidup

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat J…

Sleman-KoPi| Pasar modal ...

Prev Next

Selintas kubu Ical lebih kuat, tapi....

Selintas kubu Ical lebih kuat, tapi....

Yogyakarta-KoPi| Kekisruhan partai Golkar sebenarnya perebutan kekuasaan semata. “Posisi ketua umum yang diperebutkan merupakan pintu masuk untuk mendapatkan insentif politik. Berupa kekuasaan untuk mengendalikan menteri, fraksi DPR dan kepala daerah. Di Indonesia sendiri kasus politik selalu berhimpitan dengan insentif material. Tidak dipungkiri jabatan ketua partai menjadi ‘pintu masuk’ mendapatkan proyek-proyek tertentu”, kata Pakar Komunikasi Politik UGM, Kuskrido Ambardi.

Perpecahan Partai Beringin ini bisa dihindari dengan melakukan suksesi. Namun suksesi pun akan terhambat bila ada banyak peraturan yang dimainkan oleh pihak incumbent.
   
“Agar tidak menjadi konflik, proses tentang suksesi harus dibakukan. Nah sebenarnya setiap partai itu punyak aturan itu, hanya saja ketika pada konflik di Munas aturan itu ditekak-tekuk oleh calon ketua yang incumbent. Pembicaraan tentang tata tertib di dalamnya itu bahasa sopan tentang  peraturan untuk bisa menyeleksi suara dan seberapa besar suara itu,” tambah Kuskrido.

Kini suara Partai Golkar  sudah terpecah menjadi kubu Aburizal Bakrie dan kubu Agung Laksono, masing-masing bergiat diri berebut legitimasi keabsahan kubunya. Memang selintas melalui legal formal AD-ART kubu Aburizal Bakrie terlihat lebih kuat dengan banyak dukungan dari DPD.

“Namun kubu Agung Laksono bukan tidak mampu, meskipun simpatisannya kesana (MUNAS Jakarta) mereka (DPD I atau II) takut dipecat dan juga mereka memperhitungkan biaya transport, nah dari sudut legalitas jadi kalah kuat”, pungkas Kuskrido.

Kekisruhan Partai Golkar dan sebelumnya didahului oleh PPP mengeruhkan ilkim demokarsi di Indonesia. Asosiasinya partai politik sebagai garda utama pengendali pemerintahan. Bila menyelesaikan konflik internal saja belum bisa apalagi menyelesaikan konflik nasional. |Winda Efanur FS|

 

 

 

back to top