Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

"Sabda Raja" Sultan HB X dinilai menghianati leluhur

"Sabda Raja" Sultan HB X dinilai menghianati leluhur
Jogja-KoPi| Keputusan Sultan Hamengkubuwono X, Raja Jogjakarta yang dituangkan dalam Sabda Raja tentang perubahan gelar dan lain-lain, dianggap banyak orang sebagai bentuk kedurhakaan terhadap para leluhurunya. 
 
Sabda Raja, bukan perkara yang substansial dan murni dalam konteks kebudayaan atau kepentingan rakyat. Sabda Raja lebih merupakan jalan politik untuk memuluskan jalan Pembayun sebagai raja dan sekaligus gubenur di DIY. itu intinya, demikian kata orang dalam keraton yang tidak ingin disebut namanya.
 
Sikap raja yang dianggap salah itu juga ditunjukkan dengan reaksi penolakan adik-adik Sultan, abdi dalem dan masyarakat terhadap Sabda Raja. Sebelumnya, para adik Sultan melakukan ziarah untuk memohon maaf pada para leluhur yang menilai salah perilaku raja yang tengah mengemban tugas.
 
Sabda Raja tidak berdasarkan pada paugeran (aturan, apa yang boleh dan tidak dilakukan) yang ada yang telah menjadi bagian dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak Pageran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I mendirikan kerajaan Yogyakarta. Lebih jauh, bahkan melenceng dari paugeran pendiri Mataram Islam Danang Sutowijaya.
 
"Sinuhun melakukan dualisme. Di sisi lain beliau bersabda atas nama perubahan budaya agar tampak merakyat, tapi di sisi lain sabda itu sebenarnya bertujuan politis yang menghianati paugeran yang sudah lama dijunjung tinggi hanya demi kepentingan pribadi."
 
Sebelumnya, dalam jumpa pers di Kaputern GKR Mangkubumi (Pembayun), Jum'at, 8 Mei 2015, Sultan menyatakan bahwa apa yang ia sabdakan merupakan perintah tuhan. 
 
“Nek rojo ora laksanake dawuh risiko sikso luwih gede timbangane wong liyo (Kalau raja yang tidak melaksanakan perintah risikonya lebih besar daripada orang lain)”  jelas Sultan.
 
Untuk itu, tidak bisa memahami Sabda Raja hanya dengan pikiran, tetapi harus dengan perasaan. Pernyataan Sultan ini sulit dipahami oleh para adik Sultan. Apalagi Sultan menyebutkan tentang hukuman Allah jika ada di antara mereka terbukti salah.
 
Pangeran Mangkubumi, adik Pakubuwono II Raja Mataram Islam, mendirikan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Februari 1755, setelah melakukan pemberontakan bersama adiknya Pangeran Hadiwijoyo melawan Sunan Pakubuwono III yang didukung Kompeni. Dalam perjanjian Giyanti di tahun itu, Mataram Islam kemudian dibagi dua. Barat dikuasai Pangeran Mangkubumi dan timur dikuasai Sunan Pakubuwono III.
 
Mataram Islam, sejak awal menerapkan sistem patriarki yang mengaharuskan seorang raja dipimpin oleh pria. Maka jika seorang raja Mataram tidak memiliki putra, raja berikutnya adalah hak dari putra mahkota dari nasab yang sudah ditunjuk sesuai paugeran (aturan). Sesaat sebelum putri sultan, Gusti Pembayun berganti gelar menjadi GKR Mangkubumi, putra mahkota urutan pertama disandang GBPH Gusti Prabukusumo.| E Hermawan
 
 
back to top