Menu
Montara Task Force harus ambil alih penecemaran Laut Timor

Montara Task Force harus ambil alih…

Kupang-KoPi| "Montara T...

Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Prev Next

Reshuffle bentuk kegagalan komunikasi Jokowi

Reshuffle bentuk kegagalan komunikasi Jokowi
Surabaya – KoPi | Belum genap satu tahun pemerintahan Jokowi, muncul isu rencana perombakan Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Beberapa menteri diisukan akan diganti karena kinerja yang dianggap kurang optimal.

Menurut Dr. Ulul Albab, MS., dosen Administrasi Negara Universitas Dr. Soetomo Surabaya, reshuffle muncul karena menteri tidak memenuhi tiga syarat. Pertama ada menteri yang yang membangkang dan tidak menjalankan arahan presiden. Kedua, menteri dianggap tidak memiliki kompetensi. Dan ketiga adalah karena menteri tidak berhasil mencapai target.

“Salah satu dari tiga alasan tadi dapat menyebabkan presiden mereshuffle kabinetnya, sehingga tidak harus menunggu momentum khusus. Sebenarnya tidak butuh waktu yang lama untuk menilai kinerja seseorang. Bahkan satu bulan setelah pelantikan menteri, berhak saja di-reshuffle,” ujar Ulul.

Mantan Rektor Universitas Dr. Soetomo Surabaya ini menyatakan reshuffle adalah bentuk kegagalan menteri menjalankan Nawa Cita Presiden Jokowi. Komunikasi yang buruk antara Jokowi dengan para menteri membuat menteri terlalu fokus dengan program yang mereka usung sendiri.

“Seharusnya sebelum pelantikan para calon menteri dibekali pendalaman mengenai Nawa Cita. Tidak hanya diberi setumpuk tulisan untuk dipelajari, melainkan diberi penyampaian yang matang dan disamakan dengan visi para menteri. Selanjutnya kinerja mereka akan didasari nawa cita itu sendiri,” ujar Ulul.

Ulul menilai Jokowi belakangan ini kerap ‘cuek’ dengan menterinya. Tidak adanya konsolidasi membuat menteri bebas mengusung program semaunya sendiri.

“Kinerja menteri itu harus di bawah tekanan Jokowi. Jika dibebaskan begitu saja akan memunculkan kebijakan di atas kebijakan. Akhirnya tujuan utama Jokowi tidak dijalankan oleh para menterinya karena kerap berfokus pada program pribadi,” jelas Ulul.

“Mau reshuffle setiap hari, jika Jokowi tidak mengkomunikasikan Nawa Cita secara mendalam kepada calon menterinya, sama saja omong kosong. Komunikasi Jokowi dengan para pembantunya yang seharusnya diperbaiki,” sambungnya. | Labibah

back to top