Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Reshuffle bentuk kegagalan komunikasi Jokowi

Reshuffle bentuk kegagalan komunikasi Jokowi
Surabaya – KoPi | Belum genap satu tahun pemerintahan Jokowi, muncul isu rencana perombakan Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Beberapa menteri diisukan akan diganti karena kinerja yang dianggap kurang optimal.

Menurut Dr. Ulul Albab, MS., dosen Administrasi Negara Universitas Dr. Soetomo Surabaya, reshuffle muncul karena menteri tidak memenuhi tiga syarat. Pertama ada menteri yang yang membangkang dan tidak menjalankan arahan presiden. Kedua, menteri dianggap tidak memiliki kompetensi. Dan ketiga adalah karena menteri tidak berhasil mencapai target.

“Salah satu dari tiga alasan tadi dapat menyebabkan presiden mereshuffle kabinetnya, sehingga tidak harus menunggu momentum khusus. Sebenarnya tidak butuh waktu yang lama untuk menilai kinerja seseorang. Bahkan satu bulan setelah pelantikan menteri, berhak saja di-reshuffle,” ujar Ulul.

Mantan Rektor Universitas Dr. Soetomo Surabaya ini menyatakan reshuffle adalah bentuk kegagalan menteri menjalankan Nawa Cita Presiden Jokowi. Komunikasi yang buruk antara Jokowi dengan para menteri membuat menteri terlalu fokus dengan program yang mereka usung sendiri.

“Seharusnya sebelum pelantikan para calon menteri dibekali pendalaman mengenai Nawa Cita. Tidak hanya diberi setumpuk tulisan untuk dipelajari, melainkan diberi penyampaian yang matang dan disamakan dengan visi para menteri. Selanjutnya kinerja mereka akan didasari nawa cita itu sendiri,” ujar Ulul.

Ulul menilai Jokowi belakangan ini kerap ‘cuek’ dengan menterinya. Tidak adanya konsolidasi membuat menteri bebas mengusung program semaunya sendiri.

“Kinerja menteri itu harus di bawah tekanan Jokowi. Jika dibebaskan begitu saja akan memunculkan kebijakan di atas kebijakan. Akhirnya tujuan utama Jokowi tidak dijalankan oleh para menterinya karena kerap berfokus pada program pribadi,” jelas Ulul.

“Mau reshuffle setiap hari, jika Jokowi tidak mengkomunikasikan Nawa Cita secara mendalam kepada calon menterinya, sama saja omong kosong. Komunikasi Jokowi dengan para pembantunya yang seharusnya diperbaiki,” sambungnya. | Labibah

back to top