Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pimpinan DPR dikuasai KMP

foto: www.channelnewsasia.com foto: www.channelnewsasia.com
Jakarta-KoPi. Pada hari Rabu (1/10/14) kemarin sidang pertama DPR periode 2014-2019 telah menentukan struktur pimpinan DPR. Secara keseluruhan diambil oleh koalisi pendukung Prabowo. Struktur pimpinan ini sangat berbeda dari sebelumnya yang biasanya terdiri dari representasi parpol-parpol pemenang pemilu.

Ketua DPR terpilih adalah Setya Novanto dari Partai Golkar, kemudian wakil pimpinan DPR adalah Fahri Hamzah dari PKS, Agus Hermanto dari Partai Demokrat, Taufik Kurniawan dari fraksi Partai PAN, dan Fadli Zon dari fraksi Partai Gerindra. Pimpinan sidang tersebut adalah paket yang diusulkan dari fraksi Partai Golkar, Ade Komaruddin.

Koalisi PDI Perjuangan, termasuk PKB, Nasdem, dan Hanura melakukan aksi walk-out dari sidang karena aspirasi tidak didengar.

Menurut Novri Susan, pengamat konflik politik dari Universitas Airlangga komposisi pimpinan DPR merupakan aksi balas dendam koalisi merah putih yang mendukung Prabowo, paska kekalahan pilpres 2014. Walaupun menurutnya, terkesan mengabaikan etika politik.

"Komposisi pimpinan DPR periode lalu lebih mengakomodasi unsur-unsur partai pemenang pemilu. Namun kali ini tampaknya dorongan menguasai DPR secara penuh sangat besar. Sangat disayangkan niat politiknya."

Novri melanjutkan bahwa komposisi pimpinan DPR tersebut harus diterima sebagai realitas politik. Pada kasus Indonesia, koalisi oposisi menguasai lembaga perwakilan rakyat. Risiko cukup besar, terutama kebijakan-kebijakan Joko Widodo akan mendapat banyak ganjalan. Apalagi koalisi pendukung Prabowo memandang Jokowi dari kacamata kebencian politis, ujarnya.

"Saat ini baik atau buruknya perpolitikan Indonesia akan banyak ditentukan oleh kemauan rakyat berpartisipasi secara langsung, mengontrol para anggota dewan dan pemerintahan eksekutif. Kecuali jika ingin bangsa ini hidup dalam instabilitas dan carut marut selama lima tahun mendatang".*

 

Reporter: E. Hermawan

back to top