Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Pilkada tidak langsung melanggar konstitusi ?

ilustrasi: www.acehselatankab.go.id ilustrasi: www.acehselatankab.go.id

KoPi-Apakah pilkada tidak langsung (mekanisme pemilihan oleh DPRD) melanggar konstitusi? Jawabannya tidak. Demikian pakar politik dan demokrasi lokal dari Universitas Brawijaya, M. Faishal Aminuddin, menjawab pertanyaan tersebut.Berikut adalah pandangan kandidat doktor dari Heidelberg University, Jerman tentang polemik pilkada langsung dan tidak lansung.

Kata yang diperdebatkan itu adalah “demokratis” yang sangat tergantung pada argumentasi mana yang lebih tinggi kadar demokrasinya? Pilkada langsung atau lewat DPRD. Apakah prinsip satu orang satu suara itu lebih demokratis daripada perwakilan? Tergantung apa maunya?

Amerika sampai sekarang masih memilih presiden melalui electoral college kayak pemilihan Paus. Sementara di Belanda, walikota dipilih otomatis dari partai pemenang dikota tersebut. Atau ada yang dipilih satu paket dnegan pemilu legislatif secara bersamaan. Kalau Pancasila dianggap sebagai kanon hukum tertinggi, dalam sila keempat ada kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijsanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dari sisi semantik, publik (rakyat) dipimpin dalam semangat untuk mencari hikmah yang bijaksana dan bisa melalui musyawarah yang modelnya bisa pakai deliberative atau consociasional juga perwakilan dengan model delegatif. Kedua hal tersebut (consociasional dan delegatif) perlu ditempatkan dimana? Dalam pengambilan kebijakan tingkat nasional? Atau daerah? Saya cenderung ingin ada perubahan.

Faktanya, pilkadasung ongkos sosialnya tinggi, partai juga jadi lemot dalam soal kaderisasi yang baik sehingga banyak pakai para pesolek dan kutu loncat.

Pemimpin daerah kewenangannya apa? Dibatasi sama UU pemerintahan daerah, pusat masih terlalu dominan. Yang terjadi hanyalah kepemimpinan yang hanya besar di media, bikin senssasi tapi secara substansi tak banyak yang berubah. Juga banyak yang masuk Bui karena maling buat balik modal.

Kalau pilkada oleh DPRD, kita dihadapkan pada persoalan kualitas anggota DPRD yang korup itu sehingga kandidat yang diusung juga tak jauh beda. Untuk itu, lebih baik diperjelas, kewenangannya pemerintah daerah apa?

Kalau provinsi sebagai kepanjangan tangan kebijakan nasional, lebih baik gubernur ditunjuk saja dari presiden dan partai pemenang pemilu. Kalau kabupaten/kota punya hak penuh untuk ngurus dirinya sendiri, bolehlah kepala daerah dipilih secara langsung atau melalui delegasi atau mekanisme lain yang kadar keterwakilannya bisa tinggi.

Sulistya Hembi


 

 

back to top