Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Peneliti asal Jerman anggap Indonesia belum perhatikan pencari suaka

Peneliti asal Jerman anggap Indonesia belum perhatikan pencari suaka

Bantul-KoPi| Negara Indonesia telah menjadi negara transit bagi para pencari suaka dari berbagai negara yang terlibat konflik. Hal tersebut seperti yang dipaparkan oleh peneliti asal Jerman, Prof. Antje Missbach pada kuliah umum yang mengusung tema.“Troubled Transit: Politik Indonesia Bagi Para Pencari Suaka.”

Pada kuliah umum yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IP UMY) tersebut, Prof. Antje mengkritik pemerintahan Indonesia yang tidak memprioritaskan isu para pencari suaka yang transit di Indonesia.

“Dalam memprioritaskan isu pencari suaka di Indonesia masih tergolong rendah. Ini karena pemerintah memandang tujuan Negara para pencari suaka bukan di Indonesia, melainkan ke Australia.

Sementara Australia tidak lagi menerima para pencari suaka yang mendaftarkan diri melalui badan pengungsi PBB, UNHCR di Jakarta, seperti Afganistan, Pakistan, Iran, Irak, Myanmar, Sri Lanka, dan Somalia,” ujar Prof. Antje, Selasa (28/2) di Amphi Teater Pascasarjana lantai 4 UMY.

Staff dan juga peneliti pada Departemen Antropologi di Universitas Monash, Melbourne, Australia mencatat bahwa pada November tahun 2016, terdapat 7.274 pencari suaka serta 6.917 pengungsi mendaftarkan diri melalui UNHCR yang berasal lebih dari 44 negara.

“Sebagian besar para pengungsi yang mencari suaka harus menunggu selama kurang lebih dua tahun dalam proses pendaftaran untuk mendapatkan sertifikat para pencari suaka dari UNHCR. Indonesia sebagai Negara transit, pada tahun 1951 tidak menandatangani konvensi pengungsi Internasional. Sehingga Indonesia tidak memberikan hak bagi para pengungsi dan pencari suaka,” ungkapnya,

Selain itu, belum adanya perhatian pemerintah Indonesia bagi para pencari suaka yaitu dilihat dari lemahnya hukum pencari suaka. Hal tersebut meskipun pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan presiden nomor 125 tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri dan pencari suaka di Indonesia.

“Indonesia belum memiliki kerangka hukum dalam pencarian suaka. Indonesia belum bisa menerima pengungsi karena di dalamnya masih banyak konflik, seperti di Poso, maupun di Maluku. Dilihat pada kasus tahun 2002 saat terjadi konflik di Papua Barat, orang yang ingin mencari suaka ke Australia, oleh pemerintah Indonesia tidak diijinkan. Ini dikhawatirkan akan memunculkan separatisme. Pihak Australia akhirnya hanya memberikan ijin 3 tahun untuk tinggal di Australia,” ujarnya.

Lemahnya perhatian Indonesia terkait pengungsi dan pencari suaka juga ditambahkan dengan kebijakan baru yang di berlakukan oleh Australia. Para imigran dan pencari suaka yang terdaftar pada UNHCR di Indonesia setelah tanggal 1 Juli 2014, tidak akan pernah bisa tertampung lagi oleh AustraliPr. Kondisi tersebut seperti yang dikatakan oleh Prof. Antje akan menciptakan penumpukan migran di Indonesia.

“Sejumlah Negara menganggap pengungsi di Indonesia sebagai tanggung jawab Australia. Sehingga banyak orang terjebak dalam penantian di Indonesia. Sebagai gantinya dalam memutuskan pencari suaka di Australia, pihaknya mengganti dengan memberika uang melalui IOM (Organisasi Migrasi Internasional, red),” paparnya. |HV|

back to top