Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Pemuda-pemuda yang masih gagap pilkada

Pemuda-pemuda yang masih gagap pilkada

Surabaya-KoPi| Pilkada tahun ini memang masih jadi hal yang baru bagi angkatan 1998 ke atas. Pasalnya, angkatan tersebut baru berkesempatan untuk turut menyuarakan suaranya pada pilkada serentak kali ini. Hal ini dirasa oleh salah satu peserta pilkada di Jambangan, Surabaya.
 

Fildzah, yang baru memiliki hak suara untuk memilih calon walikotanya ini masih gugup dalam memilih. “Pemilu kemarin masih belum bisa ikut. Jadi ini pertama kalinya ikut nyoblos. Sempet bingung pilih siapa, jadi tanya mamah. Hehe,”ujarnya kepada KoPi (9/12).

Sebelumnya, ia mengaku bahwa belum pernah mendapatkan ilmu mengenai pemilu baik dari keluarga,  LSM (Lembawa Swadaya Masyarakat) maupun sekolah. “Pernah sih dulu diajak temen buat ikut acara-aacara politik gitu. Tapi ndak tertarik, jadi ndak  ikut” tuturnya.

Siswa di salah satu sekolah swasta Surabaya ini mengaku masih belum mengetahui kandidat calon pemimpin kotanya. “Tau Bu Risma ya karena emang sudah menjabat sebagai walikota. Yang calon satunya paling dari baliho dan iklan di televisi saja,” ujarnya.

Menurut Fildzah, masih banyak kawan yang juga merasakan problem yang sama. Memilih karena mengikuti pilihan kelaurga. Bukan berdasarkan pilihan hati nuraninya.

Pengamat Politik, Faahrul Muzaqqi mengatakan bahwa kondisi seperti ini merupakan hal yang dapat dimaklumi. Menurutnya “Pemuda (Pemilih pemula) berpikir bahwa persoalan politik tidak berkaitan secara langsung dengan kehidupannya sehari-hari. bagaimanapun kesadaran politik tidak selalu muncul dengan mudah, perlu diasah, dirangsang hingga mereka paham,” ujarnya kepada KoPi.

Dosen politik Universitas Airlangga ini tetap menghimbau siituasi gagap politik yang terjadi, bukan berarti bisa dibiarkan lebih lama. “Politik itu menyangkut nasib banyak orang, sehingga hal-hal seperti ini tidak bisa diabaikan” ujarnya.

Fahrul juga mengatakan bahwa upaya pemerintah harus lebih bijaksana dalam mengemas peran pemuda ataupun pemilih pemula. Agar sosialisasi yang disampaikan lebih menarik dan menyelipkan substansi pentingnya partisipasi dalam pemilu.

back to top