Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Pemuda-pemuda yang masih gagap pilkada

Pemuda-pemuda yang masih gagap pilkada

Surabaya-KoPi| Pilkada tahun ini memang masih jadi hal yang baru bagi angkatan 1998 ke atas. Pasalnya, angkatan tersebut baru berkesempatan untuk turut menyuarakan suaranya pada pilkada serentak kali ini. Hal ini dirasa oleh salah satu peserta pilkada di Jambangan, Surabaya.
 

Fildzah, yang baru memiliki hak suara untuk memilih calon walikotanya ini masih gugup dalam memilih. “Pemilu kemarin masih belum bisa ikut. Jadi ini pertama kalinya ikut nyoblos. Sempet bingung pilih siapa, jadi tanya mamah. Hehe,”ujarnya kepada KoPi (9/12).

Sebelumnya, ia mengaku bahwa belum pernah mendapatkan ilmu mengenai pemilu baik dari keluarga,  LSM (Lembawa Swadaya Masyarakat) maupun sekolah. “Pernah sih dulu diajak temen buat ikut acara-aacara politik gitu. Tapi ndak tertarik, jadi ndak  ikut” tuturnya.

Siswa di salah satu sekolah swasta Surabaya ini mengaku masih belum mengetahui kandidat calon pemimpin kotanya. “Tau Bu Risma ya karena emang sudah menjabat sebagai walikota. Yang calon satunya paling dari baliho dan iklan di televisi saja,” ujarnya.

Menurut Fildzah, masih banyak kawan yang juga merasakan problem yang sama. Memilih karena mengikuti pilihan kelaurga. Bukan berdasarkan pilihan hati nuraninya.

Pengamat Politik, Faahrul Muzaqqi mengatakan bahwa kondisi seperti ini merupakan hal yang dapat dimaklumi. Menurutnya “Pemuda (Pemilih pemula) berpikir bahwa persoalan politik tidak berkaitan secara langsung dengan kehidupannya sehari-hari. bagaimanapun kesadaran politik tidak selalu muncul dengan mudah, perlu diasah, dirangsang hingga mereka paham,” ujarnya kepada KoPi.

Dosen politik Universitas Airlangga ini tetap menghimbau siituasi gagap politik yang terjadi, bukan berarti bisa dibiarkan lebih lama. “Politik itu menyangkut nasib banyak orang, sehingga hal-hal seperti ini tidak bisa diabaikan” ujarnya.

Fahrul juga mengatakan bahwa upaya pemerintah harus lebih bijaksana dalam mengemas peran pemuda ataupun pemilih pemula. Agar sosialisasi yang disampaikan lebih menarik dan menyelipkan substansi pentingnya partisipasi dalam pemilu.

back to top