Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Pemimpin tegas, bukan cengkiling

foto: leviathyn.com foto: leviathyn.com

Surabaya-KoPi. Masyarakat harus membedakan antara politik tegas dan cenkiling. Demikian pernyataan sosiolog politik dari Universitas Airlangga, Novri Susan, menyampaikan kepada KoPi ketika ditemui di kantor Sociology Center Departemen Sosiologi Fisip Unair (3/6/14).

Menurut pakar sosiologi politik Unair tersebut, tegas merupakan simbol yang bermakna keberanian mengambil dan melaksanakan keputusan berdasar pada akal sehat. Selain itu, ketegasan selalu merupakan proses rasional dan keilmuan.

"Tegas membutuhkan proses berpikir mendalam. Individu dengan ketegasan berarti dia melampaui proses berpikir rasional, matang dan hati-hati."

Kepala sociology center Unair tersebut menambahkan bahwa tegas berbeda seratus delapan puluh derajat dari cengkiling. Menurutnya, cengkiling itu bersumber dari kebencian, kemarahan, ketersumbatan berpikir, dan meremehkan pihak lain. Oleh sebab itu, pemimpin yang tegas itu berbeda dengan pemimpin cengkiling.

"Pemimpin tegas tidak mesti tampil ngotot, temperamen, dan wajah tegang. Bisa saja tegas namun tetap sopan, tidak suka memukul, dan berhati-hati dalam merespon siapapun."

Sebaliknya, pemimpin cengkiling perilaku sehari-harinya lebih menutup dari diskusi terbuka, dan memojokkan siapapun dengan cara kekerasan. Cengkiling itu dalam bahasa Jawa berarti mudah melakukan kekerasan pada orang lain karena dia merasa lebih kuat, tandasnya kepada KoPi.

Nah, masyarakat Indonesia ingin pemimpin tegas atau cengkiling?*

 

Reporter: YP

back to top