Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Pemimpin tegas, bukan cengkiling

foto: leviathyn.com foto: leviathyn.com

Surabaya-KoPi. Masyarakat harus membedakan antara politik tegas dan cenkiling. Demikian pernyataan sosiolog politik dari Universitas Airlangga, Novri Susan, menyampaikan kepada KoPi ketika ditemui di kantor Sociology Center Departemen Sosiologi Fisip Unair (3/6/14).

Menurut pakar sosiologi politik Unair tersebut, tegas merupakan simbol yang bermakna keberanian mengambil dan melaksanakan keputusan berdasar pada akal sehat. Selain itu, ketegasan selalu merupakan proses rasional dan keilmuan.

"Tegas membutuhkan proses berpikir mendalam. Individu dengan ketegasan berarti dia melampaui proses berpikir rasional, matang dan hati-hati."

Kepala sociology center Unair tersebut menambahkan bahwa tegas berbeda seratus delapan puluh derajat dari cengkiling. Menurutnya, cengkiling itu bersumber dari kebencian, kemarahan, ketersumbatan berpikir, dan meremehkan pihak lain. Oleh sebab itu, pemimpin yang tegas itu berbeda dengan pemimpin cengkiling.

"Pemimpin tegas tidak mesti tampil ngotot, temperamen, dan wajah tegang. Bisa saja tegas namun tetap sopan, tidak suka memukul, dan berhati-hati dalam merespon siapapun."

Sebaliknya, pemimpin cengkiling perilaku sehari-harinya lebih menutup dari diskusi terbuka, dan memojokkan siapapun dengan cara kekerasan. Cengkiling itu dalam bahasa Jawa berarti mudah melakukan kekerasan pada orang lain karena dia merasa lebih kuat, tandasnya kepada KoPi.

Nah, masyarakat Indonesia ingin pemimpin tegas atau cengkiling?*

 

Reporter: YP

back to top