Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pemimpin tegas, bukan cengkiling

foto: leviathyn.com foto: leviathyn.com

Surabaya-KoPi. Masyarakat harus membedakan antara politik tegas dan cenkiling. Demikian pernyataan sosiolog politik dari Universitas Airlangga, Novri Susan, menyampaikan kepada KoPi ketika ditemui di kantor Sociology Center Departemen Sosiologi Fisip Unair (3/6/14).

Menurut pakar sosiologi politik Unair tersebut, tegas merupakan simbol yang bermakna keberanian mengambil dan melaksanakan keputusan berdasar pada akal sehat. Selain itu, ketegasan selalu merupakan proses rasional dan keilmuan.

"Tegas membutuhkan proses berpikir mendalam. Individu dengan ketegasan berarti dia melampaui proses berpikir rasional, matang dan hati-hati."

Kepala sociology center Unair tersebut menambahkan bahwa tegas berbeda seratus delapan puluh derajat dari cengkiling. Menurutnya, cengkiling itu bersumber dari kebencian, kemarahan, ketersumbatan berpikir, dan meremehkan pihak lain. Oleh sebab itu, pemimpin yang tegas itu berbeda dengan pemimpin cengkiling.

"Pemimpin tegas tidak mesti tampil ngotot, temperamen, dan wajah tegang. Bisa saja tegas namun tetap sopan, tidak suka memukul, dan berhati-hati dalam merespon siapapun."

Sebaliknya, pemimpin cengkiling perilaku sehari-harinya lebih menutup dari diskusi terbuka, dan memojokkan siapapun dengan cara kekerasan. Cengkiling itu dalam bahasa Jawa berarti mudah melakukan kekerasan pada orang lain karena dia merasa lebih kuat, tandasnya kepada KoPi.

Nah, masyarakat Indonesia ingin pemimpin tegas atau cengkiling?*

 

Reporter: YP

back to top