Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Pemimpin tegas, bukan cengkiling

foto: leviathyn.com foto: leviathyn.com

Surabaya-KoPi. Masyarakat harus membedakan antara politik tegas dan cenkiling. Demikian pernyataan sosiolog politik dari Universitas Airlangga, Novri Susan, menyampaikan kepada KoPi ketika ditemui di kantor Sociology Center Departemen Sosiologi Fisip Unair (3/6/14).

Menurut pakar sosiologi politik Unair tersebut, tegas merupakan simbol yang bermakna keberanian mengambil dan melaksanakan keputusan berdasar pada akal sehat. Selain itu, ketegasan selalu merupakan proses rasional dan keilmuan.

"Tegas membutuhkan proses berpikir mendalam. Individu dengan ketegasan berarti dia melampaui proses berpikir rasional, matang dan hati-hati."

Kepala sociology center Unair tersebut menambahkan bahwa tegas berbeda seratus delapan puluh derajat dari cengkiling. Menurutnya, cengkiling itu bersumber dari kebencian, kemarahan, ketersumbatan berpikir, dan meremehkan pihak lain. Oleh sebab itu, pemimpin yang tegas itu berbeda dengan pemimpin cengkiling.

"Pemimpin tegas tidak mesti tampil ngotot, temperamen, dan wajah tegang. Bisa saja tegas namun tetap sopan, tidak suka memukul, dan berhati-hati dalam merespon siapapun."

Sebaliknya, pemimpin cengkiling perilaku sehari-harinya lebih menutup dari diskusi terbuka, dan memojokkan siapapun dengan cara kekerasan. Cengkiling itu dalam bahasa Jawa berarti mudah melakukan kekerasan pada orang lain karena dia merasa lebih kuat, tandasnya kepada KoPi.

Nah, masyarakat Indonesia ingin pemimpin tegas atau cengkiling?*

 

Reporter: YP

back to top