Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pembentukan kabinet terancam politik jahat

foto: www.ibtimes.com foto: www.ibtimes.com
Surabaya-KoPi. Jokowi, presiden terpilih 2014, kini sibuk mempersiapkan kabinet pemerintahannya. Harapan masyarakat sederhana saja, yaitu kabinet yang sungguh-sungguh merumuskan dan melaksanakan kebijakan untuk kepentingan umum.

Fakta Jokowi berada dalam kepungan kepentingan parpol dan kelompok merupakan hambatan terbesar. Demikian argumen Novri Susan, pakar konflik politik Universitas Airlangga, kepada KoPi.

"Jokowi kini sedang menjalankan strategi konflik politik, yang semoga bukan kompromistis. Strategi Jokowi perlu berpijak pada ketegasan nilai-nilai konstitusional. Kabinet, nantinya, harus merupakan tim pemerintahan yang tidak mengekor pada kepentingan seksional (diri, red.), namun kepentingan umum atau rakyat".

Berhadapan fakta kompleksitas dan kerasnya kepentingan parpol dan kelompok kepentingan, menurut Novri, Jokowi perlu kembali mendapatkan sokongan publik. Mekanisme keterbukaan selama proses penjaringan dan negosiasi sangat disarankan.

"Jokowi perlu menyediakan sesi yang sangat terbuka ketika melakukan negosiasi dengan calon-calon anggota kabinetnya. Jangan terlalu tertutup. Setiap ketertutupan menyebabkan dia lemah oleh tekanan politik anti kerakyatan".

Dosen Sosiologi yang baru saja menerbitkan ulang (cetakan ketiga) buku Sosiologi Konflik ini mengingatkan Jokowi bahwa dalam demokrasi, sosiologi politik kepemerintahan bukanlah tentang kekuatan figur namun tim dan jejaring.

"Jangan sampai kabinet ini menjadi tim dan jejaring yang merepresentasikan kejahatan".*

 

Reporter: Irfan R.

back to top