Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Pak Jokowi, Bapak menaikkan harga di saat yang keliru

Pak Jokowi, Bapak menaikkan harga di saat yang keliru
Surabaya – KoPi | Baru beberapa bulan pemerintahan baru Jokowi, masyarakat sudah dikejutkan dengan kenaikan tarif energi yang bertubi-tubi. Mulai dari fluktuasi harga BBM, kenaikan harga LPG 12 kg baru-baru ini, serta rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Hal itu ditambah dengan pelemahan rupiah yang memicu kelesuan ekonomi nasional.
 

Pengamat politik Universitas Airlangga Fahrul Muzaqqi mengatakan pemerintahan Jokowi salah dalam menentukan timing kenaikan komoditas tersebut. Kenaikan BBM yang kemudian diikuti kenaikan harga gas dan TDL mengesankan kenaikan harga tersebut berlangsung secara bertubi-tubi. 

“Seharusnya kenaikan BBM, LPG, dan TDL tersebut bisa dilakukan dalam sekali waktu, tidak bertubi-tubi seperti ini. Kalau seperti inim akibatnya rakyat merasa pemerintah menambah beban mereka secara terus menerus,” jelas Fahrul.

Dalam situasi politik seperti ini, kebijakan yang tidak populis semacam ini juga akan menurunkan dukungan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi. Dibandingkan pada masa Pilpres 2014 lalu, popularitas Jokowi berada di titik yang rendah. 

“Situasi politik nasional ini kan bisa dibilang seperti musim pancaroba, tidak menentu. Jokowi mengambil resiko dengan mengeluarkan keputusan yang tidak populis. Sudah pasti popularitasnya di mata masyarakat jatuh,” ungkap Fahrul.

Fahrul mengatakan, gelombang ketidakpuasan dan protes akan mewarnai periode awal kepemimpinan Jokowi. Pengambilan kebijakan yang tidak populer pada waktu yang salah ini akan mempengaruhi penerimaan masyarakat atas kebijakan lainnya. Padahal pemerintahan Jokowi yang berusia muda harus didukung kepercayaan masyarakat agar program-programnya bisa berjalan lancar.

 

back to top