Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Novri Susan: Golongan putih bukan dosa

foto: Novri Susan sosiolog Unair foto: Novri Susan sosiolog Unair

Surabaya-KoPi| Golput (golongan putih) adalah sebagian anggota masyarakat yang tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum atau pilkada (pemilihan kepala daerah). Pada pilwali Surabaya tahun 2010 golput mencapai 52 persen. Angka yang sangat tinggi.

Menurut pengamat sosiologi politik Universitas Airlangga, Novri Susan, golput paling tidak dibentuk oleh empat alasan, yaitu budaya populer usia muda atau pemilih pemula, ketidakpercayaan terhadap hasil pilkada, ideologi politik dan kendala teknis pelaksanaan pencoblosan oleh pemilih.

"Tantangan terbesar ada pada budaya populer kalangan pemilih muda. Budaya populer mampu menjauhkan warga pada pentingnya partisipasi politik. Sebab kesadaran budaya populer lebih memilih tidak peduli pada politik yang dianggap serius, menakutkan dan tidak 'enak' dikonsumsi".

Selanjutnya Novri penulis buku Sosiologi Politik: Pembangunan, Konflik dan Demokrasi di Indonesia ini menjelaskan bahwa alasan ketidakpercayaan juga cukup besar mempengaruhi partisipasi dalam pilkada, baik pada mekanisme dan hasil kepemimpinan.

"Kepempimpinan hasil pilkada seringkali melahirkan sirkulasi elite semata. Artinya, wajah elite berbeda namun perilaku dan kebijakan tidak berbeda dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat."

Sedangkan menurut sosiolog Unair ini, alasan ideologis seperti tidak setuju dengan konsep demokrasi tetap ada. Pada penelitian yang ia lakukan pada tahun 2014 lalu, ada sekitar 10 persen tidak ikut pencoblosan pemilu karena masalah ideologis ini. Sedangkan kendala teknis pencoblosan para pemilih terjadi ketika para pemilik hak suara tidak mampu hadir dengan alasan tertentu seperti tidak sedang dalam kota atau sakit.

"Golput itu bukan dosa politik, karena partisipasi politik bisa dilakukan pada dimensi lain. Akan tetapi golput akan mempengaruhi legitimasi hasil pemilu atau pilkada,"tandas Novri kepada KoPi di ruangan dosen Departemen Sosiologi Fisip Unair. |Labibah|

back to top