Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Novri Susan: Golongan putih bukan dosa

foto: Novri Susan sosiolog Unair foto: Novri Susan sosiolog Unair

Surabaya-KoPi| Golput (golongan putih) adalah sebagian anggota masyarakat yang tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum atau pilkada (pemilihan kepala daerah). Pada pilwali Surabaya tahun 2010 golput mencapai 52 persen. Angka yang sangat tinggi.

Menurut pengamat sosiologi politik Universitas Airlangga, Novri Susan, golput paling tidak dibentuk oleh empat alasan, yaitu budaya populer usia muda atau pemilih pemula, ketidakpercayaan terhadap hasil pilkada, ideologi politik dan kendala teknis pelaksanaan pencoblosan oleh pemilih.

"Tantangan terbesar ada pada budaya populer kalangan pemilih muda. Budaya populer mampu menjauhkan warga pada pentingnya partisipasi politik. Sebab kesadaran budaya populer lebih memilih tidak peduli pada politik yang dianggap serius, menakutkan dan tidak 'enak' dikonsumsi".

Selanjutnya Novri penulis buku Sosiologi Politik: Pembangunan, Konflik dan Demokrasi di Indonesia ini menjelaskan bahwa alasan ketidakpercayaan juga cukup besar mempengaruhi partisipasi dalam pilkada, baik pada mekanisme dan hasil kepemimpinan.

"Kepempimpinan hasil pilkada seringkali melahirkan sirkulasi elite semata. Artinya, wajah elite berbeda namun perilaku dan kebijakan tidak berbeda dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat."

Sedangkan menurut sosiolog Unair ini, alasan ideologis seperti tidak setuju dengan konsep demokrasi tetap ada. Pada penelitian yang ia lakukan pada tahun 2014 lalu, ada sekitar 10 persen tidak ikut pencoblosan pemilu karena masalah ideologis ini. Sedangkan kendala teknis pencoblosan para pemilih terjadi ketika para pemilik hak suara tidak mampu hadir dengan alasan tertentu seperti tidak sedang dalam kota atau sakit.

"Golput itu bukan dosa politik, karena partisipasi politik bisa dilakukan pada dimensi lain. Akan tetapi golput akan mempengaruhi legitimasi hasil pemilu atau pilkada,"tandas Novri kepada KoPi di ruangan dosen Departemen Sosiologi Fisip Unair. |Labibah|

back to top