Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Novri Susan: Golongan putih bukan dosa

foto: Novri Susan sosiolog Unair foto: Novri Susan sosiolog Unair

Surabaya-KoPi| Golput (golongan putih) adalah sebagian anggota masyarakat yang tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum atau pilkada (pemilihan kepala daerah). Pada pilwali Surabaya tahun 2010 golput mencapai 52 persen. Angka yang sangat tinggi.

Menurut pengamat sosiologi politik Universitas Airlangga, Novri Susan, golput paling tidak dibentuk oleh empat alasan, yaitu budaya populer usia muda atau pemilih pemula, ketidakpercayaan terhadap hasil pilkada, ideologi politik dan kendala teknis pelaksanaan pencoblosan oleh pemilih.

"Tantangan terbesar ada pada budaya populer kalangan pemilih muda. Budaya populer mampu menjauhkan warga pada pentingnya partisipasi politik. Sebab kesadaran budaya populer lebih memilih tidak peduli pada politik yang dianggap serius, menakutkan dan tidak 'enak' dikonsumsi".

Selanjutnya Novri penulis buku Sosiologi Politik: Pembangunan, Konflik dan Demokrasi di Indonesia ini menjelaskan bahwa alasan ketidakpercayaan juga cukup besar mempengaruhi partisipasi dalam pilkada, baik pada mekanisme dan hasil kepemimpinan.

"Kepempimpinan hasil pilkada seringkali melahirkan sirkulasi elite semata. Artinya, wajah elite berbeda namun perilaku dan kebijakan tidak berbeda dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat."

Sedangkan menurut sosiolog Unair ini, alasan ideologis seperti tidak setuju dengan konsep demokrasi tetap ada. Pada penelitian yang ia lakukan pada tahun 2014 lalu, ada sekitar 10 persen tidak ikut pencoblosan pemilu karena masalah ideologis ini. Sedangkan kendala teknis pencoblosan para pemilih terjadi ketika para pemilik hak suara tidak mampu hadir dengan alasan tertentu seperti tidak sedang dalam kota atau sakit.

"Golput itu bukan dosa politik, karena partisipasi politik bisa dilakukan pada dimensi lain. Akan tetapi golput akan mempengaruhi legitimasi hasil pemilu atau pilkada,"tandas Novri kepada KoPi di ruangan dosen Departemen Sosiologi Fisip Unair. |Labibah|

back to top