Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Menteri Yohana yang miskin membela perempuan

Menteri Yohana yang miskin membela perempuan
Surabaya – KoPi | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menjadi salah satu menteri Kabinet Kerja Presiden Jokowi yang disorot karena belum menunjukkan prestasi apapun. Padahal Yohana awalnya dipuji sebagai perempuan Papua pertama yang ditunjuk sebagai menteri. Ia juga merupakan profesor pertama dari Papua.
 

Salah satu pihak yang mengkritik kinerja Yohana adalah tim relawan Jokowi yang tergabung dalam Barisan Relawan Jokowi for Presiden (BaraJP). BaraJP menilai Yohana sampai saat ini nihil prestasi. 

Tercatat beberapa keluhan terhadap Yohana telah dilayangkan oleh barisan relawan Jokowi ini. Misalnya mereka menyebut Yohana jauh lebih banyak menghabiskan waktu di Papua. Mereka juga menyebut Yohana mengangkat sejumlah staf dari kalangan keluarganya sendiri. Muncul pula keluhan dari beberapa pihak mengenai ketidakfokusan program Yohana dalam hal perlindungan anak dan perempuan di Indonesia. Yohana juga dianggap tidak menguasai masalah perlindungan perempuan dan anak.

Akibat ketidakpahaman Yohana, Indonesia pernah menjadi sorotan dunia. Hal itu terjadi ketika Yohana salah bicara dalam sebuah sidang resmi PBB. Akibat salah bicara tersebut negara-negara lain menganggap Indonesia menolak feminisme dan tidak mengakui hak asasi perempuan. 

Penunjukan Yohana sebagai menteri sendiri sempat menimbulkan kekecewaan dari masyarakat adat Papua. Relawan Jokowi di Papua sebelumnya sudah sepakat dengan Lembaga Masyarakat Adat Papua untuk untuk meminta Jokowi mengangakat tokoh Papua Yakoba Lokbere Wetipo sebagai salah satu menteri. Namun pada akhirnya Jokowi mengangkat Yohana yang memiliki gelar profesor sebagai menteri dari Papua.

Terakhir kali Yohana menjadi sorotan adalah ketika mengkritik Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Yohana menyebut kebiasaan Ahok, panggilan Basuki, yang berkata kasar merupakan hasil dari pendidikan keluarga. Tidak terima dengan pernyataan tersebut, pendukung Ahok mendemo Yohana.

Ketika pertama kali dilantik, Yohana menyebut akan memfokuskan program pemberdayaan perempuan dan anak khususnya di daerah Papua. Yohana sempat memposting komentar di Twitter mengenai kritikan terhadap sistem mas kawin di Papua yang merendahkan martabat perempuan.

Hingga saat ini masalah perempuan yang masih menjadi sorotan adalah angka kematian ibu melahirkan yang masih tinggi. Menurut data WHO hingga November 2014 menilai angka kematian ibu di Indonesia mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup. Padahal target WHO adalah mengurangi angka tersebut hingga 105 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015.

 

back to top