Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Menolak pemimpin eksklusif, siapa dia?

foto: www.indonesiakaya.com foto: www.indonesiakaya.com

KoPi. Salah satu model pemimpin yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah pemimpin transformatif, bukan eksklusif. Pemimpin inklusif secara politik tidak berjarak dari rakyatnya, selalu terbuka pada setiap upaya dialog, tidak menolak perbedaan identitas, dan memperjuangkan kesejahteraan publik.

Demikian rangkuman diskusi kepemimpinan di Sociology Center Departemen Sosiologi FISIP Unair hari ini (4/6/14). Diskusi dihadiri oleh beberap dosen fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Unair, aktivis mahasiswa dan mahasiswa-mahasiswa.

Pemimpin inklusif ini harus dimiliki oleh dua kandidat capres dan cawapres. Rakyat Indonesia harus mengevaluasi secara kritis mana dari kedua kandidat tersebut yang merupakan pemimpin inklusif.

"Jika salah pilih pemimpin eksklusif yang cara berpolitiknya berkebalikan dari pemimpin transformatif maka tamatlah riwayat negeri ini. Rakyat harus memilih pemimpin transformatif," kata Meteor Rosada mahasiswa Fisip Unair yang ikut diskusi.

Doktor Tuti Budirahayu pada diskusi menyatakan bahwa pemimpin transformatif salah satu tugasnya adalah mampu menjadi teladan ideal bagi masyarakat. Keteladanan dalam kesetaraan, keadilan, dan keterbukaan.

"Masyarakat kita saat ini tidak mendapatkan teladan yang baik. Kita masih miskin pemimpin transformatif. Pilpres 2014 semoga melahirkan pemimpin transformatif ini". Tandas Tuti.*

 

Reporter: YP

back to top