Menu
Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Muda Muslim Penting Untuk Cegah Radikalisme

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Mud…

Bantul-KoPi| Radikalisa...

Menteri Nurbaya cabut gugatan pencemaran Laut Timor

Menteri Nurbaya cabut gugatan pence…

Kupang-KoPi| Korban pen...

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Demokrasi

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Dem…

Gresik-KoPi| Di peringa...

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Digital  melalui Acara ‘Digital Future Discussion’

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Dig…

Sleman-KoPi|Seiring den...

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat Jadikan Investasi Sebagai Gaya Hidup

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat J…

Sleman-KoPi| Pasar modal ...

Prev Next

Lho desa kok seperti ini, mengerikan sekali

Lho desa kok seperti ini, mengerikan sekali

KoPi| Laporan hasil penelitian dosen Fisip Universitas Airlangga sungguh mengejutkan. Penelitian tentang Kesiapan Aparatur Desa dalam Pelaksanaan UU Desa tersebut menunjukkan hasil yang cukup mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, aparatur desa bisa mengerti tentang prinsip-prinsip good governance, namun menolak definisi korupsi dari kerangka legal (UU Antikorupsi).

Penelitian dilaksanakan di 7 desa dari 4 kabupaten Jawa Timur dengan total sampel (responden) 65 orang yang merupakan kepala desa dan aparatur pemerintahan desa dan dipilih secara purposive. Pelaksanaan survey selama bulan Juni 2015.

Dr. Tuti Budirahayu sebagai peneliti dalam survey tersebut menyebutkan bahwa mayoritas aparatur desa memahami isi UU Desa seperti kewenangan pemerintahan dan pembangunan. Akan tetapi mereka masih belum cukup paham terkait dengan pemberdayaan dan pembinaan sosial. 

Praktik atau implementasi good governance pada area-area kerja pemerintahan juga masih bermasalah pada transparansi dalam tender, pelaporan keuangan, dan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Partisipasi cukup tinggi terutama pada proses musyawarah desa terkait rencana pembangunan.

Temuan yang paling mengkhawatirkan adalah persepsi aparatur desa tentang korupsi. Mayoritas aparatur desa menyatakan bahwa tindakan kick back system, menyogok (bribery), gratifikasi dan konflik kepentingan adalah bukan sebagai tindakan korupsi.

"Kick back system itu praktek mengembalikan sejumlah uang dari total nilai proyek. Misal total 100 juta diberikan pada pelaksana proyek, namun 40 persen diberikan kepada aparatur desa. Konflik kepentingan itu termasuk memberikan proyek pada perusahaan milik keluarga aparatur desa atau kepala desa," jelas Tuti yang juga Wakil Dekan II di Fisip Unair.

Desa berdasar UU Desa akan mendapatkan gelontoran dana 1-1.2 Milyar Rupiah per tahun. Dana besar ini jika dilaksanakan oleh keyakinan para aparatur desa seperti yang ada dalam penelitian tersebut, sekiranya akan terjadi apa?  |YP|

back to top