Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Jokowi: Mental PNS harus diubah

humas.rokanhulukab.go.id humas.rokanhulukab.go.id

Jakarta-KoPi| Mentalitas Pegawai Negeri Sipil Indonesia (PNS) harus digeser dari "Mentalitas kaum ndoro menjadi mentalitas melayani. Demikian tulis Jokowi dalam akun FBnya (2/12). Pernyataan itu juga disampaikan saat menghadiri peringatan Korps Pegawai Negeri republik Indonesia (Korpri) ke 43 di Jakarta hari Senin, 1 Desember 2014.

Presiden RI ke 7 ini mengingatkan dari sudut sejarahnya bahwa PNS di masa lalu tak lepas dari bagaimana kekuasaan kolonial mengatur masyarakat. Di masa Hindia Belanda saat itu pegawai negeri disebut sebagai "Ambtenaren" mentalitas ambtenaren adalah mentalitas penguasa.
Ketika kita merdeka mentalitas itu tak serta merta hilang, kultur feodal tetap menjadi nyawa dari birokrasi kita. Rakyat dipandang sebagai objek dari penguasa, bukan sebagai "mereka yang seharusnya dilayani".

Mentalitas feodal itulah yang harus diubah, budaya birokrasi kita harus dibentuk menjadi budaya birokrasi egaliter. Pejabat-pejabat birokrasi harus tenggelam dalam irama kehidupan rakyat bukannya malah membangun kesenjangan. Ketika pejabat tenggelam dalam kehidupan rakyat, karakter yang dibangun pertama kali adalah "hidup sederhana".

Jangan kemudian pejabat menjadi contoh bagaimana kehidupan serba glamour, pejabat seperti raja-raja kecil, memamerkan kemewahan ditengah rakyat yang seharusnya dilayani. Eksistensi pegawai negeri haruslah diukur dari prestasi kerjanya dalam melayani rakyat, bukan dari seberapa banyak tamu diundang dalam pesta pernikahan anaknya.

Ukuran kebanggaan pegawai negeri adalah bagaimana melihat rakyat hidup lebih baik, bukan membanggakan "gendut-nya rekening" dari sabetan pendapatan ilegal proyek-proyek.

Hidup yang sederhana dengan rejeki yang halal, mengabdi sepenuhnya pada bangsa dan negara, melayani rakyat dengan kesungguhan hati, itulah kebanggaan sejati Pegawai Negeri, itulah sesungguh-sungguhnya kehormatan kemanusiaan dari Pegawai Negeri Republik Indonesia.

back to top