Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Jokowi: Mental PNS harus diubah

humas.rokanhulukab.go.id humas.rokanhulukab.go.id

Jakarta-KoPi| Mentalitas Pegawai Negeri Sipil Indonesia (PNS) harus digeser dari "Mentalitas kaum ndoro menjadi mentalitas melayani. Demikian tulis Jokowi dalam akun FBnya (2/12). Pernyataan itu juga disampaikan saat menghadiri peringatan Korps Pegawai Negeri republik Indonesia (Korpri) ke 43 di Jakarta hari Senin, 1 Desember 2014.

Presiden RI ke 7 ini mengingatkan dari sudut sejarahnya bahwa PNS di masa lalu tak lepas dari bagaimana kekuasaan kolonial mengatur masyarakat. Di masa Hindia Belanda saat itu pegawai negeri disebut sebagai "Ambtenaren" mentalitas ambtenaren adalah mentalitas penguasa.
Ketika kita merdeka mentalitas itu tak serta merta hilang, kultur feodal tetap menjadi nyawa dari birokrasi kita. Rakyat dipandang sebagai objek dari penguasa, bukan sebagai "mereka yang seharusnya dilayani".

Mentalitas feodal itulah yang harus diubah, budaya birokrasi kita harus dibentuk menjadi budaya birokrasi egaliter. Pejabat-pejabat birokrasi harus tenggelam dalam irama kehidupan rakyat bukannya malah membangun kesenjangan. Ketika pejabat tenggelam dalam kehidupan rakyat, karakter yang dibangun pertama kali adalah "hidup sederhana".

Jangan kemudian pejabat menjadi contoh bagaimana kehidupan serba glamour, pejabat seperti raja-raja kecil, memamerkan kemewahan ditengah rakyat yang seharusnya dilayani. Eksistensi pegawai negeri haruslah diukur dari prestasi kerjanya dalam melayani rakyat, bukan dari seberapa banyak tamu diundang dalam pesta pernikahan anaknya.

Ukuran kebanggaan pegawai negeri adalah bagaimana melihat rakyat hidup lebih baik, bukan membanggakan "gendut-nya rekening" dari sabetan pendapatan ilegal proyek-proyek.

Hidup yang sederhana dengan rejeki yang halal, mengabdi sepenuhnya pada bangsa dan negara, melayani rakyat dengan kesungguhan hati, itulah kebanggaan sejati Pegawai Negeri, itulah sesungguh-sungguhnya kehormatan kemanusiaan dari Pegawai Negeri Republik Indonesia.

back to top