Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Jokowi akan mengalami turbulensi politik

Foto: Ilustrasi (Sumber: www.sunlakesaeroclub.org) Foto: Ilustrasi (Sumber: www.sunlakesaeroclub.org)

KoPi| Jokowi, Presiden RI, akan mengalami turbulensi politik. Situasi ini tidak terhindarkan pada tahun 2016 ini. Salah satu penyebab turbulensi tersebut adalah reorganisasi kekuatan lama di dalam faksi politik yang mendukungnya sendiri. Demikian disampaikan oleh sosiolog politik Novri Susan dari Universitas Airlangga dalam bincang santai tentang Prediksi Politik 2016 di Kedai Kopiku, Surabaya Selasa 24 Februari lalu.

"Turbulensi politik ini akan muncul dari faksi politik yang mendukungnya menjadi presiden pada pemilu 2014 lalu. Fakta sosiologisnya, Jokowi sesungguhnya tidak didukung secara tulus oleh sebagian kalangan faksi politik pendukungnya. Selain itu, ada kepentingan seksional dengan dukungan kuat dari jejaring politik yang berkarakter predatoris."

Prediksi akan munculnya turbulensi politik tersebut, menurut pakar konflik politik dan pembangunan ini, serupa gunung es di laut. Kecil pada permukaan namun menjulang besar pada bagian bawah. Secara sosiologis menurut Novri kelemahan Jokowi ada pada kapasitas menjinakkan atau mengontrol kekuatan-kekuatan dengan kepentingan tak terakomodasi tersebut.

"Kepentingan tak terakomodasi bukan berarti tidak mendapatkan posisi jabatan politik. Jabatan politik sebagai menteri tidak cukup memuaskan apabila tidak memenuhi hasrat politik dan identitasnya."

Novri tidak bersedia menyebut siapa dan jejaring mana saja yang akan menciptakan turbulensi politik. Menurutnya, proses itu tidak datang dari luar faksi politik. Faksi politik dari luar pada situasi ini sedang sibuk bertahan akibat tekanan publik terhadap perilaku-perilaku eksploitatif terhadap sumber kekuasaan yang mereka miliki. Walaupun nantinya faksi politik luar pemerintahan Jokowi akan menjadikan turbulensi politik tersebut sebagai bagian dari modal delegitimasi Jokowi. 

"Saat ini Jokowi perlu melakukan rekonsolidasi pemerintahannya. Itu tentunya selalu dilakukan oleh Jokowi. Akan tetapi dia membutuhkan sumber dukungan politik yang mandiri dari faksi politik yang mendukungnya selama kampanye presiden."

Sumber dukungan politik mandiri menurut penulis buku Negara Gagal Mengelola Konflik ini adalah partai politik yang bersih dan kuat. 

"Cari saja partai politik baru yang akan muncul dengan kekuatan modal besar. Itu yang akan menjadi salah satu kekuatan politik mandiri dari Jokowi," jelas Novri menutup diskusi. |Adit| 

back to top