Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Inilah tiga pemimpin politik perempuan di Indonesia yang 'resolver'

Inilah tiga pemimpin politik perempuan di Indonesia yang 'resolver'

KoPi| Selama ini persepsi masyarakat, seorang pemimpin merakyat seolah hanya pada seberapa banyak 'blusukan'. Itu tidak salah, blusukan bagi pemimpin politik adalah cara untuk dekat rakyatnya. Akan tetapi, selain blusukan ada faktor lain dari kualitas kepemimpinan yaitu resolver (pemecah masalah).

Kepemimpinan resolver tidak meninggalkan blusukan, akan tetapi dia juga mengoptimalkan peranan sebagai seorang pemecah masalah dari kasus-kasus pelik berkaitan hajat hidup rakyat. Redaksi KoPi melakukan jajak pendapat terkait pemimpin model resolver menggunakan metode accidental sampling kepada 200 orang usia 17-35 tahun di Jawa Timur.

KoPi menemukan fakta bahwa 96,5% responden setuju pentingnya pemimpin resolver yang bekerja keras memecahkan masalah-masalah sosial ekonomi masyarakat. Sedangkan 3,5 % menyatakan tidak tahu. Ketika kepemimpinan resolver dibandingkan blusukan 60% memilih pemimpin resolver, 34% memilih blusukan, dan 6% tidak tahu. 

Menurut Sosiolog Universitas Airlangga, Novri Susan, jajak pendapat KoPi tersebut memberikan kecenderungan bahwa masyarakat lebih mengharapkan pemimpin yang resolver daripada blusukan.

"Bisa jadi praktik blusukan mulai dipandang hanya sekedar pencitraan. Setelah praktik blusukan menjadi semacam pencitraan semata, dan permasalahan sosial ekonomi masih saja belum terpecahkan, maka masyarakat tidak terlalu mempercayai praktik blusukan."

Penulis buku Negara Gagal Mengelola Konflik itu juga menggarisbawahi bahwa pemimpin yang bekerja keras memecahkan masalah merupakan harapan sangat besar. 

Jajak pendapat KoPi juga memberi pertanyaan tentang figur-figur pemimpin berdasar gender yang dipandang sebagai pemimpin pemecah masalah. Tiga besar pemimpin politik perempuan yang menjadi perhatian antara lain lain Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Fatma Saifullah Yusuf (Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita Jawa Timur, dan Susi Pudjiastuti (Menteri Perikanan dan Kelautan).

Beberapa pernyataan responden menyatakan tidak banyak pemimpin politik yang bisa seperti mereka. Hal menarik adalah masuknya Fatma Saifullah Yusuf dalam jajaran nama pemimpin politik model resolver. Selama ini Fatma Saifullah Yusuf, isteri dari Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, bekerja keras siang dan malam dalam program pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan seperti membentuk koperasi wanita, mengorganisasi 41 organisasi perempuan di Jawa Timur, dan aktif mengadvokasi hidup sehat melalui senam.

Nama-nama pemimpin politik laki-laki antara lain Joko Widodo, Ridwan Kamil, Saifullah Yusuf dan Soekarwo. |YP|

back to top