Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Ini kata Jokowi tentang kekerasan Tolikara yang jadi perhatian

Ini kata Jokowi tentang kekerasan Tolikara yang jadi perhatian

Jakarta-KoPi | Jokowi, presiden RI, memberikan pernyataan penting terhadap kasus kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal terhadap muslim di Tolikora, Papua.

Melalui akun resmi facebooknya, Jokowi menyatakan bahwa dirinya mengutuk kekerasan di Tolikara.

"Saya mengutuk keras pembakaran dan tindak kekerasan di Tolikara tersebut " tulis Presiden Jokowi pada Hari Minggu (19/7/15).

Presiden Jokowi menjamin bahwa hukum akan ditegakkan setegak-tegaknya. Penegakan hukum tersebut untuk para pelaku kriminal kekerasan tersebut sekaligus pihak-pihak yang menjadi dalang kekerasan.

"Saya jamin, hukum akan ditegakkan setegak-tegaknya, bukan hanya untuk pelaku kriminal di lapangan tetapi juga semua pihak yang tersebukti mencederai kedamaian di Papua."

Novri Susan, sosiolog pakar pengelolaan konflik, melihat penanganan kekerasan di Tolikora kurang sigap dan terlihat banyak kepentingan yang tidak bisa dikontrol negara.

"Intervensi konflik di Tolikara tampak tertatih, kurang cepat."

Novri memberi peringatan bahwa kasus ini sensitif terhadap mobilisasi identitas kolektif yang bisa dimainkan oleh kepentingan-kepentingan sempit. Menurut sosiolog penulis buku best seller Sosiologi Konflik ini, masyarakat (Islam, red) harus belajar menyerahkan penanganan konflik sosial kepada negara.

"Yang harus dilakukan bukanlah memobilisasi diri dan membuka peluang perang sipil, akan tetapi lakukan kontrol terhadap negara dalam penanganan konflik serta penegakan hukum secara melekat dan tegas. Walaupun kita lihat negara masih belum cukup cepat," pungkas Novri. | A. Nur

back to top