Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

'Goyahnya' paugeran Jogja, kembalikan ke UU Keistimewaan

'Goyahnya' paugeran Jogja, kembalikan ke UU Keistimewaan

Jogjakarta-KoPi| Senada dengan sikap KRT H. Jatiningrat, tokoh masyarakat Syukri Fadholi juga tidak menyetujui perubahan gelar Sultan HB X.

Menurut pegamatan Syukri sebelum terjadinya sabda raja kondisi masyarakat Jogjakarta tenang. Namun setelah sabda seketika hawa panas menyelimuti keluarga kraton.

Hal tersebut dipicu oleh keberatan masyarakat terhadap penggantian nama sultan. Syukri memandang penggantian nama telah melanggar nilai agama dan paugeran yang ada.

“Sabda raja yang berganti nama dengan Bawono sudah bertentangan dengan nilai agama. Ini sang sultan mengatakan sabda raja berasal dari wahyu. Padahal yang mendapat wahyu cuma nabi. Hal ini seolah lahir nabi baru bernama Herjuno Darpito”, papar Syukri saat menghadiri musyawarah bersama di rumah GBPH Prabukusumo, sore tadi.

Melihat dampak dari perubahan nama telah merusak paugeran yang ada. Syukri mengajak masyarakat untuk berjuang bersama mengembalikan dan menjaga paugeran Jogjakarta.

Sementara Wakil Ketua I DPRD DIY, Arif Noor Hartanto yang akrab disapa Inung berkomentar, situasi tegang setelah sabda raja dapat dipulihkan dengan menjalankan UUK secara konsekuen. Menurut Inung adanya Undang-Undang Keistimewaan (UUK) untuk menjalankan paugeran di Jogjakarta.  |Winda Efanur FS|

back to top