Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

GBPH Prabukusumo dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubowono XI

GBPH Prabukusumo dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubowono XI

Jogjakarta-KoPi| Sabda Raja Sultan Hamungkubuwono X yang dianggap cacat moral oleh para kerabat keraton, akhirnya berbuntut penobatan adik Sultan X. Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan mengakangkat raja baru. Penobatan ini dilakukan di Petilasan Kraton Ambarketawang, Gamping, Sleman, Ahad, 12 Juli 2015

Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo dinobatkan menjadi Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kaping XI. Sinuhun bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping XI (Sewelas) ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ketua Paguyuban Trah Ki Ageng Giring- Ki Ageng Pemanahan, Satrio Djojonegoro mengatakan bahwa tahta Ngayogyakarta dianggap kosong setelah Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan Sabda Raja yang dianggap melanggar paugeran (adat) leluhur.

"Sejak adanya Sabda Raja kita menganggap bahwa tahta Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat mengalami kekosongan atau komplang. Itu kenapa kita mengukuhkan Gusti Prabu." Demikian penjelasan Satrio Djonegoro.| BACA: GBPH Prabukusumo: Pengukuhan sebagai Sultan XI tidak sah

back to top