Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Diam-diam Indonesia diserang bioterorisme?

Diam-diam Indonesia diserang bioterorisme?
Surabaya – KoPi| Banyak yang tidak sadar Indonesia merupakan sasaran empuk bioterorisme. Jumlah penduduknya yang besar dan masih belum adanya counter measure dalam menangani bioterorisme merupakan kelemahan Indonesia. Merebaknya flu burung, flu babi, ebola, dan antraks di Indonesia ditengarai merupakan salah satu bentuk bioterorisme di Indonesia. Virus flu burung, flu babi, ebola dan antraks tidak mungkin dikatakan muncul secara alami.
 

“Munculnya suatu wabah penyakit harus dicari hubungan sebab akibatnya, termasuk struktur kuman penyebab. Harus dilakukan pendekatan biologi molekular untuk menentukan apakah virus-virus tersebut muncul secara alami atau karena upaya bioterorisme,” kata Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom., Guru Besar Bidang Biokimia dan Biologi Molekular, Universitas Airlangga.

Nidom mengatakan beberapa tahun terakhir ini Indonesia kerap diserang wabah penyakit yang menyerang hewan dan juga manusia. Misalnya, serangan wabah flu burung tahun 2003 dan 2012 yang menimbulkan dampak masif. Selain itu kasus flu babi di tahun 2009 dan dugaan Ebola yang sempat ditemukan pada orang utan di wilayah perkebunan kelapa sawit atau ditemukannya sebuah peternakan di Blitar yang terpapar virus Anthraks baru-baru ini.

Nidom mengatakan hal itu layak dicurigai sebagai bioterorisme. Apalagi, melalui pendekatan biologi molekular, ia telah meneliti adanya orang utan yang mengidap virus Ebola yang sama dengan yang menyerang Sierra Leone dan Liberia. 

Data dari Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menyebutkan bahwa 80% kuman penyakit yang digunakan untuk kegiatan bioterorisme berasal dari penyakit hewan (zoonosis), seperti Anthraks, Ebola, Flu Burung, dan lain-lain. Nidom mengatakan dampak bioterorisme memang tidak bisa dirasakan langsung seperti terorisme lainnya. Serangan bioterorisme baru bisa dirasakan dampaknya setelah jangka waktu yang panjang.

“Memang tidak mudah menyebut sebuah wabah penyakit merupakan bioterorisme atau bukan. Paling tidak ada tiga unsur yang harus ada, antara lain, adanya senjata biologi, motif, dan dampak di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Tapi umumnya bioterorisme bermotif ekonomi,” ujarnya.

“Karena itu Indonesia perlu mengembangkan Pusat Riset/Kajian Anti Bioterorisme segera. Paling tidak untuk mengkaji dari unsur senjata biologinya,” tukas Nidom lagi.| Defrina S.S.

back to top