Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Diam-diam Indonesia diserang bioterorisme?

Diam-diam Indonesia diserang bioterorisme?
Surabaya – KoPi| Banyak yang tidak sadar Indonesia merupakan sasaran empuk bioterorisme. Jumlah penduduknya yang besar dan masih belum adanya counter measure dalam menangani bioterorisme merupakan kelemahan Indonesia. Merebaknya flu burung, flu babi, ebola, dan antraks di Indonesia ditengarai merupakan salah satu bentuk bioterorisme di Indonesia. Virus flu burung, flu babi, ebola dan antraks tidak mungkin dikatakan muncul secara alami.
 

“Munculnya suatu wabah penyakit harus dicari hubungan sebab akibatnya, termasuk struktur kuman penyebab. Harus dilakukan pendekatan biologi molekular untuk menentukan apakah virus-virus tersebut muncul secara alami atau karena upaya bioterorisme,” kata Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom., Guru Besar Bidang Biokimia dan Biologi Molekular, Universitas Airlangga.

Nidom mengatakan beberapa tahun terakhir ini Indonesia kerap diserang wabah penyakit yang menyerang hewan dan juga manusia. Misalnya, serangan wabah flu burung tahun 2003 dan 2012 yang menimbulkan dampak masif. Selain itu kasus flu babi di tahun 2009 dan dugaan Ebola yang sempat ditemukan pada orang utan di wilayah perkebunan kelapa sawit atau ditemukannya sebuah peternakan di Blitar yang terpapar virus Anthraks baru-baru ini.

Nidom mengatakan hal itu layak dicurigai sebagai bioterorisme. Apalagi, melalui pendekatan biologi molekular, ia telah meneliti adanya orang utan yang mengidap virus Ebola yang sama dengan yang menyerang Sierra Leone dan Liberia. 

Data dari Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menyebutkan bahwa 80% kuman penyakit yang digunakan untuk kegiatan bioterorisme berasal dari penyakit hewan (zoonosis), seperti Anthraks, Ebola, Flu Burung, dan lain-lain. Nidom mengatakan dampak bioterorisme memang tidak bisa dirasakan langsung seperti terorisme lainnya. Serangan bioterorisme baru bisa dirasakan dampaknya setelah jangka waktu yang panjang.

“Memang tidak mudah menyebut sebuah wabah penyakit merupakan bioterorisme atau bukan. Paling tidak ada tiga unsur yang harus ada, antara lain, adanya senjata biologi, motif, dan dampak di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Tapi umumnya bioterorisme bermotif ekonomi,” ujarnya.

“Karena itu Indonesia perlu mengembangkan Pusat Riset/Kajian Anti Bioterorisme segera. Paling tidak untuk mengkaji dari unsur senjata biologinya,” tukas Nidom lagi.| Defrina S.S.

back to top