Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Diam-diam Indonesia diserang bioterorisme?

Diam-diam Indonesia diserang bioterorisme?
Surabaya – KoPi| Banyak yang tidak sadar Indonesia merupakan sasaran empuk bioterorisme. Jumlah penduduknya yang besar dan masih belum adanya counter measure dalam menangani bioterorisme merupakan kelemahan Indonesia. Merebaknya flu burung, flu babi, ebola, dan antraks di Indonesia ditengarai merupakan salah satu bentuk bioterorisme di Indonesia. Virus flu burung, flu babi, ebola dan antraks tidak mungkin dikatakan muncul secara alami.
 

“Munculnya suatu wabah penyakit harus dicari hubungan sebab akibatnya, termasuk struktur kuman penyebab. Harus dilakukan pendekatan biologi molekular untuk menentukan apakah virus-virus tersebut muncul secara alami atau karena upaya bioterorisme,” kata Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom., Guru Besar Bidang Biokimia dan Biologi Molekular, Universitas Airlangga.

Nidom mengatakan beberapa tahun terakhir ini Indonesia kerap diserang wabah penyakit yang menyerang hewan dan juga manusia. Misalnya, serangan wabah flu burung tahun 2003 dan 2012 yang menimbulkan dampak masif. Selain itu kasus flu babi di tahun 2009 dan dugaan Ebola yang sempat ditemukan pada orang utan di wilayah perkebunan kelapa sawit atau ditemukannya sebuah peternakan di Blitar yang terpapar virus Anthraks baru-baru ini.

Nidom mengatakan hal itu layak dicurigai sebagai bioterorisme. Apalagi, melalui pendekatan biologi molekular, ia telah meneliti adanya orang utan yang mengidap virus Ebola yang sama dengan yang menyerang Sierra Leone dan Liberia. 

Data dari Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menyebutkan bahwa 80% kuman penyakit yang digunakan untuk kegiatan bioterorisme berasal dari penyakit hewan (zoonosis), seperti Anthraks, Ebola, Flu Burung, dan lain-lain. Nidom mengatakan dampak bioterorisme memang tidak bisa dirasakan langsung seperti terorisme lainnya. Serangan bioterorisme baru bisa dirasakan dampaknya setelah jangka waktu yang panjang.

“Memang tidak mudah menyebut sebuah wabah penyakit merupakan bioterorisme atau bukan. Paling tidak ada tiga unsur yang harus ada, antara lain, adanya senjata biologi, motif, dan dampak di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Tapi umumnya bioterorisme bermotif ekonomi,” ujarnya.

“Karena itu Indonesia perlu mengembangkan Pusat Riset/Kajian Anti Bioterorisme segera. Paling tidak untuk mengkaji dari unsur senjata biologinya,” tukas Nidom lagi.| Defrina S.S.

back to top