Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Dhimam dilengserkan jadi calon walikota, “Ada kesepakatan tertentu di baliknya”

Surabaya - KoPi | Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Surabaya, Rasiyo-Dhimam telah bersanding dengan lawan Risma-Whisnu pada pilkada Desember mendatang. Sebelumnya, Dhimam menggandeng Haris Purwoko yang diusung oleh Partai Demokrat.

Namun, saat pendaftaran, Haris kabur dengan alasan tidak dapat izin dari keluarga. Pada Selasa (11/8) kemarin, Dhimam kembali mendatangi KPUD Surabaya dengan menggandeng sosok yang baru. Rasiyo yang merupakan mantan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur dan diusung oleh partai Demokrat.

Dhimam yang sebelumnya merupakan calon Walikota Surabaya, lantas turun tahta bersanding dengan Rasiyo menjadi calon Wakil Walikota Surabaya. Pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya, Fahrul Muzaqqi menanggapi hal tersebut sebagai bentuk kompromi kepentingan sang aktor.

“Secara kasat mata seolah Dhimam dirugikan dan manut saja, namun saya yakin ada bentuk kesepakatan tertentu mengapa beliau bersedia digeser dengan Rasiyo,” ujar Fahrul.

Fahrul meyakini sikap politik seperti ini merupakan drama yang mengupayakan kepentingan pada aktor-aktornya. Ada permainan kekuasaan di balik lengsernya Dhimam yang hanya menjadi calon walikota.

Meskipun begitu, Fahrul menduga Demokrat memiliki data yang menunjukan elektabilitas Rasiyo yang lebih tinggi dibanding dengan Dhimam. Sehingga kemungkinan alasan Partai pengusung meletakan Dhimam sebagai cawali dikarenakan elektabilitas Rasiyo yang lebih tinggi ketimbang Dhimam. |Labibah|

back to top