Menu
Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Australia 1972 cacat hukum

Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Austr…

Kupang-KoPi| Penulis Bu...

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tidur untuk pertanian

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tid…

Akademi Militer - Gubernu...

Gus Ipul berharap semua terbiasa baca shalawat

Gus Ipul berharap semua terbiasa ba…

  Surabaya-KoPi| Wa...

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Sleman-KoPi| Universita...

Teliti isu multikultur dalam film Indonesia

Teliti isu multikultur dalam film I…

Bantul-KoPi| Sejarah pe...

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Sektor UMKM

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Se…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan kedaulatan Laut Timor

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan k…

Kupang-KoPi|Pembela nel...

Kapolda DIY segera lakukan operasi pasar kontrol harga beras

Kapolda DIY segera lakukan operasi …

Sleman-KoPi|Kepala Pold...

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY digeser

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY d…

Sleman-KoPi|Polda DIY m...

Pengedar Sabu di Sleman berhasil ditangkap jajaran Polres Sleman

Pengedar Sabu di Sleman berhasil di…

Sleman-KoPi| Satuan res...

Prev Next

Buya Syafii: Jangan sampai Pilkada DKI Jakarta terjadi di wilayah lain Featured

syafiii2

Jogja-KoPi| Buya Syafii Arif berharap agar kejadian Pilkada di Jakarta kemarin tidak sampai menular ke daerah lainnya pada Pilkada 2018.

Menurutnya, Pilkada di Jakarta kemarin penuh akan kesenjangan sosial serta ketimpangan sosial akibat ujaran provokatif yang bersifat membenci dan saling menjatuhkan. Ia mengatakan beberapa daerah rawan kemungkinan terjadi pengulangan kejadian seperti di pilkada DKI Jakarta.

"Virus jahatnya ini yang pling kita cemaskan. Paling rentan dan rawan itu Jawa Barat, mudah-mudahan orang sunda tidak terkena dampak dari Pilkada DKI Jakarta kemarin,"ujar Buya Syafii usai diskusi 'Mengatasi Kesenjangan Sosial di Indonesia' dengan organisasi Indonesia Tionghoa (INTI) dengan jalur kultural Muhammadiyah dan NU ,di West lake Resto, Rabu (3/1).

Buya yang bernamakan lengkap, Ahmad Syafii Maarif, belum bisa mengatakan secara pasti lokasi rawan terjadinya ujaran atau pelintiran kebencian pada Pilkada. Namun ia memastikan ada beberapa lokasi dengan indikasi-indikasi yang mengarah ke masalah tersebut

"Ada indikasi dari survei yang menyebutkan seperti di Pantai Timur Sumatera dan Jawa barat,"imbuhnya.

Alissa Qotrunnada Wahid, Koordinator Gusdurian melengkapi keterangan Buya ,bahwa daerah rawan hasil pemetaan narasi Gusdurian secara online terdapat tiga daerah di Indonesia yang rawan untuk terjadinya pelintiran dan ujaran kebencian. Wilayah-wilayah rawan ini dibagi menjadi tiga warna tergantung dari tingkat tinggi ujaran kebenciannya.

"Kami tangkap dari arus pembicaraan online yang merah membara dan sentimen hate speehnya (ujaran kebencian )tinggi jawa barat,kedua wilayah pantai timur sumatra mulai lampung,riau keatas. Karena ada etnis dan suku ada tapi dikaitkan dengan agama. Sementara Kalimantan barat (pontianak), Makasar atau sulawesi selatan berwarna jingga,'jelas Putri pertama Mantan Presiden Abdurahman Wahid 'Gus Dur' ini.

Lanjutnya,Jawa Timur di bagian Pasuruan serta Jawa tengah aman berwarna Hijau.

Allisa mengatakan media sosial yang paling rawan saat ini, pertama adalah Twitter ,kedua Facebook. Sementara usia masyarakat yang paling rawan terpapar ujaran kebencian adalah anak muda.

"Usia yg rawan adalah anak muda. Makin muda,makin gampang dihasut. Mereka melihat orang jadi musuh karena anak muda yang paling banyak mengakses dunia maya,"

Kembali ke Buya, Ia pun berharap nantinya masyarakat lebih kritis lagi dalam menyambut Pilkada. Pada isu money Politic, ia pun menghimbau agar kita tak ikuti arahan seseorang baik itu saat memilih pemimpin atau mengikuti orang-orang yang menyebarkan ujaran kebencian.


"Tapi persoalan kita saat ini adalah uang dan money politic, ini penyakit menjalar di masyarakat dan ini penyakit demokrasi kita. Jadi lebih baik saya seperti ini,terima uangnya namun jangan ikuti arahannya," tutup Buya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top