Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Ada permainan politik tingkat tinggi dalam pencoretan Rasiyo-Dhimam Abror

Ada permainan politik tingkat tinggi dalam pencoretan Rasiyo-Dhimam Abror
Surabaya - KoPi| Drama di Pilkada Surabaya kembali berulang. Minggu pagi, saat pengumuman penetapan calon walikota Surabaya, KPU Surabaya mencoret pasangan Rasiyo-Dhimam Abror Djuraid. Pasalnya, dokumen-dokumen mereka dianggap tidak memenuhi syarat.
 

KPU memang menetapkan berkas-berkas Rasiyo memenuhi syarat. Namun, berkas-berkas Abror dinilai bermasalah. Dokumen tersebut antara lain NPWP, tanda bukti penyerahan wajib pajak, STTP, dan tanda bukti tidak ada tunggakan pajak yang diverifikasi KPU ke Kantor Pajak Pratama Wonokromo. Dokumen lain yang dianggap bermasalah adalah rekomendasi PAN untuk Dhimam dengan tanda tangan basah, ternyata tidak identik.

Bukan hanya PAN dan Demokrat saja yang kecewa pada keputusan KPU Surabaya tersebut. PDI-P sebagai partai pengusung pasangan Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana juga kesal. Kedua tim pemenangan masing-masing calon sepakat mengadukan KPU Surabaya ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Mereka menyebut KPU Surabaya tidak profesional.

Sukadar, Liaisson Officer (LO) atau penghubung tim Risma-Whisnu dengan KPU menganggap ada upaya menjegal Pilwali Surabaya. Ia menyebutkan KPU tidak pernah berkoordinasi dengan LO atau memberitahu jika ada berkas yang kurang.

"Semuanya dilakukan secara masif dan terstruktur," ungkap Sukadar, seperti diberitakan Tribun Surabaya

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPC PDI-P Kota Surabaya Adi Sutarwijono juga curiga ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang ingin mengagagalkan Pilwali 2015. "Semuanya sangat jelas terasa, dari fenomena calon kabur serta upaya penjegalan. Upaya penjegalan, tiba-tiba rekom PAN untuk Abror hilang. Semua sangat kentara," kata Awi, panggilan akrab Adi Sutarwijono.

Pengamat politik asal Universitas Airlangga, Fahrul Muzakki mengatakan ada permainan politik tingkat tinggi dalam tercoretnya pasangan Rasiyo-Dhimam. "Pasangan Rasiyo-Abror hanya kurang persyaratan administrasi teknis yang sebenarnya bisa diupayakan beberapa hari sebelum hari-H diumumkan. Namun toh tetap tidak terpenuhi. Bisa jadi ini kelalaian KPU Surabaya atau keteledoran pasangan Rasiyo-Abror sendiri," ungkapnya pada KoPi.

back to top