Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

3 Alasan Pengukuhan Gusti Prabukusumo Pembodohan publik

3 Alasan Pengukuhan Gusti Prabukusumo Pembodohan publik

Jogjakarta-KoPi| Selepas beredar berita pengukuhan Gusti Prabukusumo oleh Paguyuban Trah Ki Giring-Ki Ageng Pemanahan hawa panas semakin menyelimuti keluarga kraton.

Setelah pengubahan sabda raja beberapa waktu lalu, memang banyak kelompok meyakini sultan tidak lagi menjabat sebagai raja bahkan diartikan kursi sultan telah kosong.

Peristiwa pengukuhan Gusti Prabukusumo di Petilasan Ambarketawang melalui tetanda Djojonegoro sebagai upaya menyelamatkan situasi kraton yang menurutnya tidak memilki pemimpin.

Dalam hal ini pengamat politik Kraton Jogjakarta, Bayu Dardias menyatakan pengukuhan Gusti Prabukusumo merupakan pembodohan publik. Pasalnya penobatan tanpa dihadiri oleh yang dinobatkan (Gusti Prabukusomo) itu omomg kosong.

“Jika Sultan HB X dianggap melanggar paugeran, penobatan ini lebih ngawur. Mataram beberapa kali mengalami perebutan, tapi belum pernah dilakukan dengan cara sebodoh ini. Alasannya banyak, intinya ada yang berpangkat lebih tinggi, KGPH Hadikusumo, penobatan tanpa dihadiri yang dinobatkan itu omong kosong. Yang monobatkan tidak memiliki kapasitas untuk menobatkan”, tulis Dosen Isipol UGM melalui WA.

Bayu Dardias menegaskan tahta kraton tidaklah kosong karena pengubahan gelar. Dia juga membandingkan pengubahan gelar yang pernah dilakukan oleh Sultan HB I, lantas tidak menurunkan posisinya sebagai sultan.

Sementara untuk menganulir polemik internal kraton, Bayu mengharapkan para petinggi kraton dan keluarga duduk bersama menyelesaikan permasalahan.

“Jadi siapa di belakangnya belum jelas. Polemik hanya bisa diselesaikan dalam rapat internal keluarga antara Sultan dan 11 adik laki-lakinya. Semoga mementum hari raya bisa mendinginkan suasana,” pungkas Bayu.

Hal senada juga diungkapkan oleh warga Jogja, Istiana. Dirinya menyayangkan kondisi ketidakharmonisan keluarga kraton. Menurutnya paska- sabda raja hingga peristiwa pengukuhan tersebut telah berimbas pada aktivitas ekonomi kraton terutama di Alun-Alun Utara. Dia berharap situasi kraton kembali normal.
|Winda Efanur FS|

back to top