Menu
Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi jangan jauhi pelakunya

Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi …

Jogja-KoPi|Menteri Agam...

Gus Ipul akan perkuat pendidikan agama

Gus Ipul akan perkuat pendidikan ag…

Nganjuk-KoPi| Wakil Gub...

Menhub meminta PT KAI mengantisipasi bahaya longsor

Menhub meminta PT KAI mengantisipas…

Jogja-KoPi|Memasuki mus...

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah Kejuruan Industri

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah…

Jogja-KoPi|Kementerian ...

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari Komunikasi Interpersonal

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari…

Sleman-KoPi| Lulusan dari...

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untuk patroli di tutup tahun 2017

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untu…

Jogja-KoPi|Kepolisian R...

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Prev Next

UGM Dirikan Posko Pengungsian Ternak Korban Bencana

UGM Dirikan Posko Pengungsian Ternak Korban Bencana

YOGYAKARTA, 01 OKTOBER 2017 – Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) terlibat dalam pendirian posko pengungsian bagi ternak milik para korban bencana alam di Kabupaten Karangasem, Bali.

“Keselamatan ternak menjadi bagian tak terpisahkan dari keselamatan manusianya. Karena itu, Fapet UGM terpanggil untuk berperan melalui posko bersama,” ujar Dekan Fapet UGM, Prof. Dr. Ali Agus, DAA, DEA dalam siaran persnya meresponi pendirian posko pengungsian ternak bagi korban bencana, di Yogyakarta, Minggu (01/10/2017).

Menurut Prof Ali, bencana alam adalah hal yang tidak pernah diharapkan. Namun jika masyarakat dihadapkan pada fenomena tersebut, maka perlu upaya agar dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, Gunung Agung dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan aktivitas dan sudah sampai status ‘awas’.

Prof Ali mengatakan, pemerintah menetapkan daerah dibawah radius kurang dari 12 km sebagai kawasan rawan bencana (KRB) 1 dan 2, untuk di kosongkan. Dan diperkirakan sekitar 70 ribu penduduk akan berpindah dalam barak pengungsian.

“Fakultas Peternakan UGM mendirikan Posko Penyelamatan Ternak bersama ISPI, FPPTI, AINI, Gapuspindo, dan Persepsi,” terang Prof Ali.

Peternak Berisiko

Sementara itu, dari Kabupaten Karangasem Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fapet UGM, Bambang Suwignyo, Ph.D mengatakan, para pengungsi adalah peternak yang rela mengambil risiko masuk kawasan rawan bencana (KRB) untuk tetap memantau dan memberi pakan ternak-ternaknya.

“Namun di sisi lain, ada saja oknum yang memanfaatkan kesempatan membeli ternak penduduk dengan harga murah, hingga separuh harga normal,” papar Bambang.

Oleh karena itu, selain posko pengungsian manusia juga diperlukan posko pengungsian ternak. Posko didirikan di desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Ketersediaan Pakan

Lebih jauh, Bambang menuturkan, pada Minggu (1 Oktober 2017) tim Fapet UGM yang terdiri dari Bambang Suwignyo, PhD sebagai koordinator, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fapet UGM, Prof. Ir. I Gede Suparta Budi Satria, M.Sc., Ph.D, dan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Budi Guntoro bersama dua mahasiswa relawan menuju ke salah satu posko ternak di Tista, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali. Tim berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari unsur Dinas Peternakan, IGK Nata Kusuma.

“Bahwa saat ini ada 40 titik lokasi ternak disiapkan. Sebanyak 3.000 ekor sapi sudah di evakuasi dari 20 riba ekor yang ada. Sedangkan jumlah pengungsi sudah mencapai 144 ribu orang dari perkiraan hanya 70 ribu,” ungkap Bambang.

Saat ini, katanya, sumber pakan hijauan yang lebih diutamakan karena masih sangat kurang. Konsentrat relative, sudah ada beberapa donor yang bersedia membantu.

“Walau so far, kita belum bisa memprediksi sampai berapa lama situasi darurat ini,” papar Bambang lagi.

Pakan Fermentasi

Bambang menyatakan, bahwa Posko bersama selain bersiap dengan stok pakan konsentrat juga menawarkan program edukasi pengurangan risiko bencana.

“Kami usulkan program membuat pakan fermentasi dengan melibatkan para pengungsi. Pakan fermentasi dapat disimpan dalam waktu lama dengan tidak rusak, sehingga dapat untuk antisipasi stock andai erupsi berlangsung lama,” ujar Bambang menambahkan.

Setidaknya, kata dia, membuat stock pakan fermentasi akan mengurangi frekuensi peternaik naik ke KRB zona merah (0 sd 6 km) dan kuning (6 sd 12 km). Pelibatan pengungsi selain ada edukasi, juga dapat menjadi wahana interaksi dan mengurangi stress di pengungsian, jelas dia.

back to top