Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Sukadi tidak ingin menjual sawah

Sukadi tidak ingin menjual sawah
“Kalau di sini itu petaninya 5 % saja tidak sampai. Sekarang yang nanem (bertani) tidak ada karena tanah sudah dipenuhi bangunan. Padahal tahun 90an semua orang menjadi petani,”

Sleman-KoPi- Demikian kata Sukadi Hartono, salah seorang petani yang masih tersisa di Sleman kepada Koranopini.com ketika menjawab pertanyaan berapa banyak jumlah petani di sekitar kawasannya. (baca: Di Sleman, sawah mulai tumbuh pabrik)

Menurut petani asal Jatirejo, Sendangdadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta ini, banyak orang sudah tidak ingin menjadi petani lagi. Mereka beranggapan menjadi petani sudah tidak lagi menjanjikan secara ekonomi dan terlihat kasar. Mereka bahkan lebih baik menjual lahan sawahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kasus memilukan para petani ini dibenarkan oleh Ketua Joglo Tani Yogyakarta, T.O Suprapto. Pria yang sekaligus tercatat sebagai Koordinator Umum Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonsia ( IPPHTI ) ini  mengatakan, bahwa petani Indonesia mengalami banyak tekanan selain ekonomi, tekanan sosial turut memupus harapan orang menjadi petani.

“Status petani di Indonesia kastanya dianggap paling rendah dan out put pertanian tidak menjanjikan. Banyak pemuda di desa mereka lebih menjadi tenaga kerja asing, atau kerja di kota menjadi kuli daripada mengembangkan pertanian di desanya," ujar T.O Suprapto.

Namun di balik pandangan profesi petani yang dianggap tidak menjanjikan, Sukadi justru tetap optimis dan berpandangan luas. Sukadi yang sedari kecil bersahabat dengan sawah membuktikan kecintaannya kepada keluarga melalui pertanian.

“Jadi petani memang pendapatan kurang, kalau orang yang tidak mikir ke depan, sudah jual sawah. Tapi saya tidak, saya masih mikir kalau tanah di jual besok anak mau tinggal dimana? Sebagai orang tua ngenes kalau anak sampai ngrontak nantinya”, tutur Sukadi.

Reporter: Winda Efanur Fs

back to top