Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Sukadi tidak ingin menjual sawah

Sukadi tidak ingin menjual sawah
“Kalau di sini itu petaninya 5 % saja tidak sampai. Sekarang yang nanem (bertani) tidak ada karena tanah sudah dipenuhi bangunan. Padahal tahun 90an semua orang menjadi petani,”

Sleman-KoPi- Demikian kata Sukadi Hartono, salah seorang petani yang masih tersisa di Sleman kepada Koranopini.com ketika menjawab pertanyaan berapa banyak jumlah petani di sekitar kawasannya. (baca: Di Sleman, sawah mulai tumbuh pabrik)

Menurut petani asal Jatirejo, Sendangdadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta ini, banyak orang sudah tidak ingin menjadi petani lagi. Mereka beranggapan menjadi petani sudah tidak lagi menjanjikan secara ekonomi dan terlihat kasar. Mereka bahkan lebih baik menjual lahan sawahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kasus memilukan para petani ini dibenarkan oleh Ketua Joglo Tani Yogyakarta, T.O Suprapto. Pria yang sekaligus tercatat sebagai Koordinator Umum Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonsia ( IPPHTI ) ini  mengatakan, bahwa petani Indonesia mengalami banyak tekanan selain ekonomi, tekanan sosial turut memupus harapan orang menjadi petani.

“Status petani di Indonesia kastanya dianggap paling rendah dan out put pertanian tidak menjanjikan. Banyak pemuda di desa mereka lebih menjadi tenaga kerja asing, atau kerja di kota menjadi kuli daripada mengembangkan pertanian di desanya," ujar T.O Suprapto.

Namun di balik pandangan profesi petani yang dianggap tidak menjanjikan, Sukadi justru tetap optimis dan berpandangan luas. Sukadi yang sedari kecil bersahabat dengan sawah membuktikan kecintaannya kepada keluarga melalui pertanian.

“Jadi petani memang pendapatan kurang, kalau orang yang tidak mikir ke depan, sudah jual sawah. Tapi saya tidak, saya masih mikir kalau tanah di jual besok anak mau tinggal dimana? Sebagai orang tua ngenes kalau anak sampai ngrontak nantinya”, tutur Sukadi.

Reporter: Winda Efanur Fs

back to top