Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Sukadi tidak ingin menjual sawah

Sukadi tidak ingin menjual sawah
“Kalau di sini itu petaninya 5 % saja tidak sampai. Sekarang yang nanem (bertani) tidak ada karena tanah sudah dipenuhi bangunan. Padahal tahun 90an semua orang menjadi petani,”

Sleman-KoPi- Demikian kata Sukadi Hartono, salah seorang petani yang masih tersisa di Sleman kepada Koranopini.com ketika menjawab pertanyaan berapa banyak jumlah petani di sekitar kawasannya. (baca: Di Sleman, sawah mulai tumbuh pabrik)

Menurut petani asal Jatirejo, Sendangdadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta ini, banyak orang sudah tidak ingin menjadi petani lagi. Mereka beranggapan menjadi petani sudah tidak lagi menjanjikan secara ekonomi dan terlihat kasar. Mereka bahkan lebih baik menjual lahan sawahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kasus memilukan para petani ini dibenarkan oleh Ketua Joglo Tani Yogyakarta, T.O Suprapto. Pria yang sekaligus tercatat sebagai Koordinator Umum Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonsia ( IPPHTI ) ini  mengatakan, bahwa petani Indonesia mengalami banyak tekanan selain ekonomi, tekanan sosial turut memupus harapan orang menjadi petani.

“Status petani di Indonesia kastanya dianggap paling rendah dan out put pertanian tidak menjanjikan. Banyak pemuda di desa mereka lebih menjadi tenaga kerja asing, atau kerja di kota menjadi kuli daripada mengembangkan pertanian di desanya," ujar T.O Suprapto.

Namun di balik pandangan profesi petani yang dianggap tidak menjanjikan, Sukadi justru tetap optimis dan berpandangan luas. Sukadi yang sedari kecil bersahabat dengan sawah membuktikan kecintaannya kepada keluarga melalui pertanian.

“Jadi petani memang pendapatan kurang, kalau orang yang tidak mikir ke depan, sudah jual sawah. Tapi saya tidak, saya masih mikir kalau tanah di jual besok anak mau tinggal dimana? Sebagai orang tua ngenes kalau anak sampai ngrontak nantinya”, tutur Sukadi.

Reporter: Winda Efanur Fs

back to top